Mizutex.com – Jilbab merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan wanita muslimah. Keberadaan Jilbab merupakan gaun keagungan bagi muslimah dan sebagai perisai (pelindung) dari niat orang yang jahat. Sayangnya, banyak yang keliru dalam mempersepsikan makna Jilbab. Pada kesempatan berharga ini, kami ingin mengupas bagaimana kriteria Jilbab wanita muslimah dalam pandangan Al-Qur’an.

Memahami makna Jilbab sesuai tafsir ayat dalam Al-Qur’an

 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menutupkan Jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (QS. Al-Ahzab 59)

Imam Al-Qurtubi yang merupakan salah seorang pakar ilmu Tafsir Al-Qur’an, menjelaskan tentang makna Jilbab dalam ayat diatas:

“Firman Alloh, ‘Mengulurkan Jibabnya’, bahwa Jalaabib adalah bentuk jamak dari kata Jilbab, yaitu kain yang lebih lapang dari khimar (kerudung)”.

Dengan demikian, jelas sekali bahwa perintah kepada wanita muslimah tentang Jilbab adalah kain penutup kepala yang lapang dan lebar. Bukanlah kain penutup kepala yang ukurannya kecil atau mini, yang sering disebut masyarakat awam dengan istilah “kerudung”.

Lebih jelas lagi, adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Qurtubi berikutnya:

“Jilbab adalah kain atau pakaian yang menutupi seluruh tubuh. Sebagaimana yang terdapat dalam (hadits) Shahih Muslim, diriwayatkan dari Ummu ‘Athiyah, beliau berkata, ‘Wahai Rasululloh, salah seorang diantara kami ada yang tidak mempunyai Jilbab’, Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hendaklah saudarinya memberikan kepadanya Jilbab’.”

Penjelasan dan dalil-dalil yang disampaikan oleh Imam Al-Qurtubi diatas dapat disimak secara lengkap dalam kitab Tafsir Al-Qurtubi, pada ayat 59 dari surah Al-Ahzab.

Sebagai informasi tambahan, jika kita memperhatikan catatan kaki dari Al-Qur’an terjemah Indonesia, maka terdapat penjelasan pada kata Jilbab di ayat tersebut:

“Jilbab adalah baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, wajah dan dada”.

Jadi, apakah kita masih ragu tentang wajibnya menutup kepala dan wajah dengan Jilbab Syar’i yang sesuai dengan perintah Alloh Rabbil ‘alamin dalam Al-Qur’an?

Jilbab itu bukanlah jilbab yang hanya menutupi rambut saja. Bukan juga sekedar menutupi leher atau dada saja. Akan tetapi, Jilbab adalah kain yang menutup seluruh tubuh, Yup! Seluruh tubuh, bukan hanya sebagian dari anggota tubuh.

Reaksi wanita muslimah di zaman Nabi ketika ada perintah Jilbab

Sebagai seorang mukmin, tidak ada pilihan lain bagi mereka ketika mendengar perintah dari Al-Qur’an atau sabda Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam. Melainkan hanya mendengar dan taat.

Tidak ada pilihan lain bagi mereka kecuali hanya tunduk dan patuh. Bahkan, dapat dikatakan bahwa tidak ada lagi yang namanya negosiasi atau mencari jalan lain yang paling toleran bagi dirinya, sehingga bisa menyesuaikan dengan hawa nafsunya.

Lebih khusus dalam masalah ini adalah Jilbab Syar’i dengan persepsi yang sesuai dengan makna ayat atau asbab nuzulnya ayat.

 

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

 

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan (hukum), akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab 36)

Al-Imam Abu Bakar Ahmad Ibnu Ali Ar-Razy Al-Jashash rahimahulloh berkata: Abdulloh bin Muhammad telah mengabarkan kepada kami, berkata: Ma’amar telah mengabarkan kepada kami dari Abu Khaitsam dari Shafiyah binti Syaibah, dari Ummu Salamah (istri Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam), “Ketika ayat ini turun, ‘Hendaklah mereka mengulurkan Jilbabnya ke seluruh tubuh mereka (QS. Al-Ahzab 59)’, maka wanita-wanita dari kalangan anshar ketika keluar (dari rumah mereka) seolah-olah diatas kepala mereka ada gagak, karena ada pakaian hitam (Jilbab) yang mereka kenakan.”

Kehidupan kaum muslimin di zaman Nabi ketika ada satu perintah dari Alloh dan RasulNya, maka mereka langsung tunduk dan patuh. Meskipun, perintah tersebut adalah perintah yang masih “asing” dan bukan kebiasaan mereka. Sebagai contoh dalam hal ini adalah Jilbab yang besar yang menutup seluruh tubuh, yang dimulai dari kepala hingga badan.

Berbeda dengan keadaan kaum muslimin dan muslimat di zaman sekarang. Semakin dekat mereka dengan hari kiamat, malah bukan membuat mereka waspada atas dosa-dosa mereka dan pembangkangan mereka, tapi justeru membuat mereka semakin apatis terhadap perintah Alloh. Contohnya adalah Jilbab yang Syar’i. Masih banyak para wanita yang masih alergi terhadapnya dan justeru lebih menyukai gaya berpakaian yang tabarruj. (Baca: Tipu daya pakaian tabarruj yang menggiring pada makar iblis).

Menggunakan Jilbab dan baju gamis Syar’i harus kita lakukan, karena hal tersebut merupakan bagian dari perintah Alloh. Sebagaimana kita taat pada perintah Alloh tentang puasa, oleh karena itu tentu kita juga akan taat pada perintah Alloh tentang Jilbab dan baju gamis Syar’i.

Betul bukan? Karena kita tidak boleh membeda-bedakan setiap perintah Alloh dan RasulNya!

Tidak memisahkan antara Jilbab dan Cadar (Niqab)

Masih banyak yang belum tau tentang keterikatan yang erat antara Jilbab dan cadar. Sehingga masih banyak yang salah kaprah ketika menghukumi penggunaan cadar pada wanita muslimah. Sayang sekali banyak yang terlalu berani menghukumi bahwa penggunaan cadar adalah mubah, parahnya ada juga yang mengatakannya sebagai bid’ah.

Beberapa kekeliruan diatas adalah dikarenakan kurangnya pengetahuan terhadap dalil Syar’i dan riwayat shahih tentang wajibnya cadar.

Pada dasarnya, cadar merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dari Jilbab. Akan tetapi, seiring berkembangnya istilah dan bahasa kita, banyak yang salah kaprah dalam penyebutan mana khimar, mana Jilbab. Yang semestinya disebut khimar malah dibilang Jilbab dan yang semestinya dibilang Jilbab malah dibilang bid’ah.

Oleh karena itu, supaya lebih gamblang, berikut ini ada perkataan Shahabat Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam yang bisa dipegang kebenarannya. Bahwa Abdulloh bin Abbas Radhiyallohu ‘anhuma berkata:

“Alloh Subhanahu wata’ala memerintahkan kepada wanita Mukminat bila keluar rumah untuk suatu kebutuhan, agar menutup wajah mereka dengan Jilbab yang diulurkan dari atas kepalanya dan hanya menampakkan kedua mata mereka saja”.

Riwayat atsar diatas memiliki sanad yang hasan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikh Abdul Qadir Habibulloh As-Sindiy. Lihat Raff’ul Junnah Amama Jilbabil Mar’ah fil Kitab was Sunnah, hal 38. Atsar ini memiliki saksi yang sangat kuat dengan sanad yang shahih dari Ubadah As-Salmaniy.

Menggunakan Jilbab Syar’i agar wanita muslimah tidak diganggu

Al-Imam Abu Ja’far Muhammad Ibnu Jarir At-Thabariy rahimahulloh berkata dalam tafsir ayat 59 dari surah Al-Ahzab:

“Alloh ‘Azza wa Jalla mengatakan kepada NabiNya Muhammad, ‘Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin’, janganlah kalian menyerupai budak dalam hal pakaiannya, jika mereka keluar untuk keperluannya. Mereka membuka rambut dan mukanya. Tapi, hendaklah mereka mengulurkan Jilbabnya ke seluruh tubuh mereka agar tidak diganggu orang jahat, jika dia tau bahwa mereka itu wanita merdeka, dengan gangguan perkataan.”

Bagaimana kriteria Jilbab wanita muslimah dalam pandangan Al-Qur’an?

Demikianlah diantara penjelasan singkat tentang Jilbab Syar’i dan sifatnya (cirinya). Di dalamnya terdapat penjelasan dan hikmah yang besar tentang perintah Jilbab tersebut. Semua penjelasan diambil dari tafsir Al-Qur’an, hadits dan atsar yang shahih. Dengan penjelasan yang gamblang, serta tidak didapati sama sekali keraguan di dalamnya.

Sumber: ‘Audatul Hijab, karya Syaikh Dr. Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ismail Al-Muqaddam, diterjemahkan oleh Ustadz Abu Sulaiman Al-Arkhabiliy