Sudah menjadi hal yang penting untuk memiliki keturunan dari jenis laki-laki. Mengingat seorang laki-laki adalah pemimpin bagi umat, minimal bagi seorang isteri dan anak-anaknya.

Seorang khalifah, imam, ulama ataupun hakim, juga dari kaum lelaki. Karena ia memiliki akal yang lebih sempurna, selamat dari fitnah dan jauh dari celaan Alloh Ta’ala dan Rasul-Nya jika mengisi tanggung jawab tersebut.

Dimana hal ini sudah difahami dengan baik oleh orang yang memiliki baik sedikit saja dari ilmu yang Syar’i.

Selaras dengan firman Alloh Ta’ala:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”

[Al-Baqarah: 30]

Maksudnya adalah Nabi Adam dan keturunannya para lelaki, yang akan menjadi Khalifah. Sedangkan yang menyertai Adam adalah Hawa dan muslimah yang melahirkan generasi selanjutnya.

Taukah ya ummah? Bahwa seorang ibu memiliki peran yang sangat penting dalam perkara ini. Tidakkah mereka malu, tatkala Imam ibnu Katsir berkata dalam Al-Bidayah wan Nihayah saat menyindir kaum ibu-ibu? Dimana ibu-ibu sekarang ini telah mandul melahirkan generasi seperti Khalid bin Walid radhiyallohu’anhu.

Sejalan dengan hal ini pula, sudah masyhur didengar, untaian pepatah yang berbunyi, “Dibalik lelaki hebat, tentu ada wanita yang hebat.”

Dalam pepatah arab juga dikenal, “Ibu adalah madrasahnya umat.”

Oleh karena itu wajar, jika Alloh Ta’ala memberikan perhatian yang sangat besar dalam mengatur Syari’at seorang muslimah. Karena wanita adalah target utama bagi iblis dan wali-walinya yang ingin menghancurkan keutuhan umat.

Oleh karena itu taatilah Alloh, karena dalam Syari’at-Nya terdapat kebaikan yang sangat besar bagi wanita secara khusus dan umat Islam secara umum.

Mungkin para ibu-ibu merasa kecil hati dan menyangka tidak bisa ikut andil bagi kejayaan Islam dan umatnya.
Padahal, sejatinya mereka memiliki pengaruh yang tidak sedikit.

Mereka memiliki peluang yang sangat besar dan bisa juga ikut berperan dalam perkara ini. Yaitu dengan bertekad untuk mencetak generasi lelaki yang akan meninggikan panji Islam.

Sebagaimana hal itu juga pernah dinadzar-kan oleh isteri Imran, isteri dari imam dalam sebuah keluarga yang mulia yang darinya terlahir Nabi-nabi dan Rasul-rasul.

Diantaranya Musa, Harun dan Isa ‘alaihimus salam (lihat Surah Ali ‘Imran).

Adapun Alloh Ta’ala juga telah berfirman:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada seorang rijal yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Alloh. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya)”.

[Al-Ahzab: 23]

Secara khusus ayat ini berbicara tentang karakter dan ganjaran bagi seorang mukmin yang Shiddiq, yang senantiasa berjuang untuk Alloh Ta’ala dan menjual jiwanya kepada Alloh dengan murah. Dalam rangka mengharap wajah Alloh Ta’ala dan keridhaan-Nya.

Meskipun “rijal” yang dimaksud dalam ayat ini tidak terkhusus pada lelaki, namun secara umum karakter rijal lebih banyak dimiliki oleh para lelaki.

Jika demikian halnya, alangkah besar ganjaran yang akan diperoleh bagi seorang ibu yang dapat melahirkan seorang lelaki dan dapat mendidiknya menjadi rijal bagi umat ini.

Sedangkan, seorang anak tentu akan merasa bersyukur atas didikan seorang ibu yang Sholehah, yang mendukungnya untuk menjadi seorang rijal dan bisa meraih ridha Alloh Ta’ala.

Sebagai ucapan terima kasih—yang mungkin belum bisa membalas seluruh kebaikan seorang ibu—seorang rijal sejati tentu bertekad akan memberikan mahkota indah kepada ibu tercintanya.

Dimana satu permatanya lebih mahal daripada dunia dan seisinya. Subhanalloh…

Adapun untuk mendapatkan bayi laki-laki itu sendiri dapat dilakukan dengan ikhtiyar yang diperbolehkan, sebagaimana berikut:

Caranya, hitunglah jumlah atau total hari dalam masa suci dan masa haid. Katakanlah 20 atau 30 hari, maka bagi jumlah hari tersebut menjadi 4 bagian.

Sedangkan benih bayi laki-laki akan lebih besar kemungkinannya terjadi pada ¼ akhir dari siklus biologis seorang wanita. Insya Alloh demikian.

Semoga bermanfaat ya… Doa dan ikhtiyar selalu kepada Alloh Ta’ala dan niatkan untuk kebaikan.

 

 

Baca juga artikel berikut ini: