Al-Qur’an banyak mengemukakan beberapa aturan tentang pergaulan kepada wanita mukminat. Hal ini menunjukkan besarnya perhatian Alloh Ta’ala kepada kaum hawa. Dan juga mengandung hikmah yang besar, serta diperuntukkan kepada keterjagaan kehormatan mereka.

Diantara dalil Syar’i yang mengharuskan untuk berbicara di balik tabir (hijab) kepada kaum hawa adalah sebagaimana ayat berikut:

وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتٰعًا فَسْـَٔلُوهُنَّ مِن وَرَآءِ حِجَابٍ

ذٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“…Dan apabila kamu meminta sesuatu keperluan kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka…”

[Al-Ahzab: 53]

Ayat ini merupakan dalil Syar’i yang sangat gamblang, yang mengatur bagaimana komunikasi antar lawan jenis itu berlangsung. Oleh karena itu, keberadaan tabir atau penghalang (penutup) yang membatasi antara kaum lelaki dan wanita ketika berkomunikasi adalah suatu kewajiban.

Tanpa perlu berfikir untuk mengalihkan makna ayat ini, seorang mukmin dan mukminat sejati hendaknya tunduk dan patuh kepada hukum Alloh Ta’ala. Tidaklah Alloh Ta’ala menurunkan suatu hukum kepada kaum mukminin, melainkan agar mereka mendapatkan kebaikan baik di dunia mupun di akhirat.

Terkhusus dalam hal ini adalah dalam ruang lingkup berkomunikasi dengan lawan jenis.

Agar hati mereka lebih suci

Keberadaan tabir itu sendiri adalah dalam rangka membuat suci bagi hati kaum lelaki dan perempuannya. Sebagaimana yang disebutkan dalah surah Al-Ahzab tadi.

ذٰلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ

“…Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka…”

[Al-Ahzab: 53]

Imam Al-Qurtubi rahimahulloh menjelaskan tentang ayat ini bahwa, “Secara makna, semua wanita masuk dalam konteks (ayat ini). Dan berdasarkan kaidah Ushul Syar’i, bahwa seluruh apa yang ada pada seorang wanita, baik badan maupun suaranya adalah aurat. Semuanya tidak boleh diperlihatkan (di-zhahirkan, red), kecuali bila ada keperluan (yang Syar’i), seperti pada saat dia dilamar seseorang atau keperluan pengobatan terhadap penyakit yang ada di badannya.”

Jika demikian halnya, maka tidak perlu lagi kita memandang kepada pendapat kontemporer yang justeru bertentangan dengan perkataan Ulama dan perkataan Shahabat Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam yang marfu’. (Baca: Jilbab Syar’i menurut Islam yang benar harusnya seperti ini).

Wabil khusus dalam hal ini adalah tentang hijab Syar’i dan jilbab Muslimah. Sebab, dalam perkara ini pintu-pintu syetan sangat terbuka lebar untuk membantah, mendebat dan menentang apa yang telah menjadi ketetapan Alloh Ta’ala dan Rasul-Nya.

Hijab dan Jilbab Syar’i adalah perhiasan wanita mukminah serta identitas keislaman.

Ketika sudah mulai tumbuh generasi Muslimah yang ta’at kepada Rabb-Nya, untuk menjaga kehormatan dan harga dirinya dengan jilbab Syar’i. Tak sedikit lisan keji yang suka mencemooh dan merendahkannya.

Padahal, ini adalah perintah Rabb Yang Maha Agung. Yang menciptakan langit dan bumi dan yang mengembang-biakkan manusia dari setetes air yang mani.

Apakah pantas, seorang makhluk yang hina ini menentang perkataan Rabbul ‘alamin, Alloh ‘Azza wajalla?

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Alloh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.”

[Al-Ahzab: 36]