Mizutex.comKerajinan kain perca adalah diantara seni yang sudah memiliki umur ribuan tahun. Mulanya, produk kerajinan ini diperuntukkan bagi pelapis baju prajurit yang terbuat dari besi. Namun, di era modern sekarang ini, kerajinan perca merupakan ladang bisnis yang sangat menguntungkan. Meski dipandang sebelah mata, bisnis kerajinan kain perca bisa raup keuntungan ratusan juta.

Teknik menggabungkan kain perca bertujuan untuk membuat motif baru dan bentuk yang menarik serta fungsional. Penggabungan dua unsur, yaitu seni dan fungsi, menjadikan kerajinan kain perca bisa dihargai jutaan rupiah.

Sekarang, perkembangan kerajinan kain perca semakin pesat. Kegunaannya tidak hanya sebatas pada perlengkapan rumah tangga baju atau perlengkapan tidur. Namun, juga sebagai aksesoris dan hiasan, seperti lukisan, bando, gelang, keset dan lain-lain. (Baca: Kreatifitas tanpa batas, kerajinan kain perca bisa berpeluang sukses)

Segala sesuatu yang mulanya dianggap “limbah” jika dapat dioalah dengan baik dapat memiliki nilai ekonomis. Tanpa terkecuali dalam hal ini adalah kain perca. Berikut ini tim Mizutex.com dengan senang hati membagi artikel dari TipsWirausaha.com yang mengupas perjalanan sukses pengrajin kain perca hingga meraup untung ratusan juta.

Hobi adalah alasan utama

Dikenal dengan nama Metavia, sebagai pemilik Fafa Quilts & Craft yang berlokasi di Jakarta Barat. Metavia, dalam proses membuat kerajinan kain perca memiliki teknik tersendiri, yaitu quilting. Yaitu teknik menyambung pada bagian kain yang terpisah. Diantara produknya adalah bed cover, selimut, gorden, karpet, tas kain, handuk, celemek dan taplak meja.

Bermula dari hobi, Metavia membuat kerajinan kain perca sejak tahun 1994 . Tak seperti yang disangkakan banyak orang, untuk dapat menguasai teknik menyambung kain perca dengan baik, Metavia harus banyak melakukan percobaan sendiri. Pasalnya, ia hanya mengandalkan buku dan eksperimen secara otodidak.

Alasan hobi adalah “energi” yang membuatnya selalu gigih dalam melakukan percobaan. Teknik quilting yang pernah ia coba mulai dari Jepang hingga Eropa. Kegigihannya untuk terus belajar dan melakukan percobaan, mengantarkannya pada tingkat mahir dalam melakukan kombinasi kain perca.

Bisnis yang sempat terhenti

Tentu saja yang namanya wirausaha, ada saja kendala dan tantangan yang harus dihadapi. Begitu pula dengan Metavia. Seorang ibu yang kini memiliki 5 anak, ketika menjalani bisnis kerajinan kain perca mengaku pernah berhenti sementara waktu.

“Saya pernah sempat berhenti pada tahun 1998 karena anak-anak saya masih sangat kecil,” terang Metavia.

Semangat yang terus menyala, telah mendorong Metavia untuk aktif kembali di dunia kerajinan kain perca. Bertepatan pada tahun 2004, yaitu ketika anak-anak sudah mulai memasuki usia sekolah. Sehingga ia memiliki banyak waktu di rumah untuk menghidupkan kembali bisnis yang sempat terhenti.

Sayangnya, ketika Metavia mulai merintis kembali bisnisnya, ternyata sudah mulai banyak pengrajin kain perca lainnya.

Bukannya membuat semangat menjadi kendor, namun Metavia memandang adanya persaingan sebagai ajang untuk kompetisi. Sehingga justeru mendorongnya untuk lebih kreatif dalam membuat kerajinan kain perca.

Metavia, Sumber gambar ayoprenneur

Metavia, Sumber gambar: ayoprenneur.com

Menciptakan produk yang unik dan menarik

Agar produk kerajinan kain perca dapat dibuat lebih menarik, Metavia tidak lagi mengandalkan kain perca, namun ia juga membeli bahan kain baru sebagai motifnya. “Saya melakukan penambahan kain untuk memberikan warna lain dalam teknik quilting,” terangnya.

Berhasil membuat terobosan baru yang unik dan menarik, membuat karya-karya kerajinan kain perca miliknya dihargai cukup mahal. Semakin sulit pembuatannya, maka semakin mahal pula nilai jualnya. Misalnya untuk bed cover, Metavia menjualnya mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 4 juta rupiah. Sedangkan untuk sarung bantalnya dihargai Rp 70.000 hingga Rp 100.000 per potong.

Memperkerjakan karyawan

Semakin banyak produk yang dibuat dan banjir pesanan, tentu tidak bisa diayomi sendiri. Mencari karyawan untuk memudahkan proses produksi adalah pilihan tepat untuk Metavia. Dibantu oleh 6 orang karyawan, membuatnya dapat memproduksi kerajinan kain perca dalam jumlah yang sangat banyak.

Metavia mampu memproduksi hingga ratusan produk kerajinan perca dan keuntungan yang diraih dapat mencapai hingga 300 juta. Nilai yang sangat fantastis untuk embel-embel produk kerajinan kain perca, yang mungkin diremehkan oleh sebagian orang.

Melihat bisnis yang sudah berkembang tentu ada manis pahitnya. Sama halnya kerajinan kain perca milik Metavia. Kalau dulu ia terkendala oleh kesibukan mengurusi anak yang masih kecil, kini ia dihadapi masalah sulitnya menemukan karyawan yang terampil dan kreatif. Karena, patut diakui, menjahit dan menggabungkan potongan-potongan kain menjadi nilai seni, tentu tidaklah mudah. Metavia sendiri sebagai orang yang sudah merasakan sulitnya.

Terlepas dari berbagai kendala yang menghadang suatu bisnis, patut untuk dilihat dari sudut pandang yang positif. Yaitu, setiap kerja keras pasti akan membuahkan hasil. Siapa yang sungguh-sungguh pasti dia dapat meraihnya.

Selain itu, yang namanya rezeki sudah diatur jatahnya oleh Alloh Subhanahu wata’ala. Bagaikan burung yang pergi di waktu pagi dalam keadaan lapar, kemudian pulang di sore hari dalam keadaan kenyang. Meskipun burung tidak pernah kerja lembur, nyatanya burung dapat mencukupi kebutuhan dirinya dan anak-anak di dalam sangkarnya.

 

Ada prinsip bisnis yang menarik untuk diketahui, bahwa kesuksesan itu 90% dari kerja keras dan hanya 10% dari bakat.

 

Demikian sedikit inspirasi yang dapat di bagikan oleh tim Mizutex.com kepada pembaca. Semoga dapat menginspirasi anda yang sedang mencari peluang bisnis sukses. Dan semoga artikel tentang “Meski dipandang sebelah mata, bisnis kerajinan kain perca bisa raup keuntungan ratusan juta” dapat diambil manfaatnya. Jangan lupa, jika ingin beli kain, ingat Mizutex.com!

Diolah dari tipswirausaha.com