Dalam rutinitas di kehidupan kita, ada dua jenis suara yang sering kita dengar dan dengan sengaja diperdengarkan oleh orang-orang. Bahkan, tidak hanya diperdengarkan kepada orang-orang saja, namun juga menjadi sesuatu yang “wajib” untuk berbagai acara, kegiatan atau agenda. Ingatlah bahwa suara-suara itu adalah suara nyanyian dan jeritan histeris.

Kedua suara tersebut dapat saling beriringan dan sengaja diperdengarkan, khususnya pada acara-acara televisi atau film dokumenter, untuk menarik perhatian kepada para hadirin.

Taukah anda, bahwa kedua suara tersebut adalah dua suara yang dibenci dan di larang oleh Syari’at. Sebagamana hal ini telah dituturkan melalui lisan orang yang paling mulia, yang menjadi panutan terbaik bagi seluruh manusia, yaitu Nabi Muhammad ﷺ.

Namun, hal yang sangat mengherankan adalah, bahwa nyanyian dan suara histeris itu banyak kita biarkan di sekitar kita. Dan yang lebih mengherankan lagi adalah, bahwa pada umumnya nyanyian-nyanyian yang sebenarnya dilarang oleh Islam itu justeru diajarkan di sekolah-sekolah Islam. Dengan alasan, untuk media pendidikan, untuk mengisi waktu luang, menghibur dan bahkan dijadikan sebagai materi ekstra kurikuler.

Tidak kalah mengagetkannya, jika siswa-siswi yang terlahir dari metode pendidikan itupun menjadi “aneh” dalam hal pola pikir ataupun cara pandang. Misalnya sebagaimana berikut ini:

Pertama, menganggap baik bershalawatan kepada Nabi ﷺ dengan diiringi gendang-gendangan, gitar atau seruling.

Kedua, menganggap baik berdakwah dengan diselingi lagu, nyanyian, musik dan gitar. 

Ketiga, menyebut lagu qasidahan yang notabenenya para vokalisnya adalah kaum wanita yang memiliki suara genit, lantas hal itu disebut sebagai sarana dakwah kepada Islam.

Dan yang keempat, yang tidak kalah gemblengnya, bahwa kaum awam pun ikut-ikutan dengan membuat arasemen ulang terhadap lagu shalawatan pak yai, dengan mengubah shalawatan menjadi dangdut koplo. 

Hingga akhirnya, seluruh kesemrawutan itupun di siarkan secara luas ke channel-channel radio atau televisi. Didengarkan banyak orang, didengarkan banyak ustadz dan kiayi, namun tak ada diantara mereka yang berdaya untuk melenyapkannya.

Marilah kita mengkaji ulang semua hal ini, yang mana jika dibiarkan secara terus-menerus akan menjadi sesuatu yang sangat berbahaya bagi seluruh generasi Islam, akidahnya dan ibadahnya. 

Berikut ini adalah beberapa rangkuman yang disertai dengan penjelasan gamblang dan disertai dalil yang kuat, bahwa musik, lagu, nyanyian dan teriakan histeris adalah suara-suara yang dilarang dan dibenci oleh Nabi ﷺ.

Penjelasan berikut merupakan penjelasan yang dicatat oleh Imam Ibnu Qayyim rahimahullah dalam Kitab yang beliau tulis, Ighasatul Lahfan min Mashaidisy Syaithan (Menyelamatkan hati dari tipu daya syaithan).

Insya Allah ﷻ, materi ini akan dilanjutkan dengan pembahasan lain yang juga diambil dari kitab beliau rahimahullah.

Bacaan syaithan

Istilah tentang “bacaan syaithan” telah dikenal di kalangan tabi’in dan diriwayatkan dalam hadits yang marfu’.

Qatadah rahimahullah berkata, “Ketika iblis diturunkan dari surga, ia berkata, ‘Rabbi, Engkau telah melaknatku, lalu apa pekerjaanku?’ 

Allah ﷻ menjawab, ‘Sihir’.

Iblis bertanya lagi, ‘apa bacaanku?’.

Allah ﷻ menjawab, ‘Sya’ir’.

Ia bertanya lagi, ‘Apa tulisanku?’.

Allah ﷻ menjawab, ‘Tato’.

Ia bertanya lagi, ‘Apa makananku?’.

Allah ﷻ menjawab, ‘Setiap bangkai dan apa saja yang tidak disebutkan nama Allah atasnya’.

Ia bertanya, ‘Apa minumanku?’.

Allah ﷻ menjawab, ‘Setiap minuman yang memabukkan.’

Ia bertanya, ‘Dimana tempat tinggalku?’.

Allah ﷻ menjawab, ‘Pasar’.

Ia bertanya, ‘Apa suaraku?’.

Allah ﷻ menjawab, ‘Seruling’.

Ia bertanya, ‘Apa perangkap-perangkapku?’

Allah ﷻ menjawab, ‘Perempuan’.

Imam Ath-Thabrani rahimahullah dalam Al-Mu’jam Al-Kabir juga meriwayatkan hadits dari Abu Umamah yang marfu’ dari Nabi ﷺ. Ibnu Abi Dunya dalam kitab Makayidusy Syaithan wa Hiyalihi berkata: Abu Bakar Tamimi menceritakan kepada kami dari Ibnu Abi Maryam dari Yahya bin Ayub dari Ibnu Zahr dari Ali bin Yazid dari Qasim dari Abu Umamah, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

“Sesungguhnya setelah iblis diturunkan ke bumi ia berkata, ‘Rabbi, Engkau telah menurunkanku ke bumi dan menjadikanku terkutuk. Maka buatkanlah rumah untukku’. Allah menjawab, ‘Kamar mandi’. Ia meminta lagi, ‘Buatkanlah majelis untukku’. Allah menjawab, ‘Majelismu adalah pasar dan persimpangan jalan’. Ia meminta lagi, ‘Jadikanlah makanan untukku’. Allah menjawab, ‘Makanmu adalah setiap makanan yang tidak disebutkan nama Allah atasnya’. Ia meminta lagi, ‘Jadikanlah minuman untukku’. Allah menjawab, ‘Minumanmu adalah setiap yang memabukkan’. Ia meminta, ‘Jadikanlah mu’adzin untukku’. Allah menjawab, ‘Seruling’. Ia meminta lagi, ‘Jadikan bacaan (qur’an) untukku’. Allah menjawab, ‘Sya’ir’. Ia meminta lagi, ‘Jadikan tulisan untukku’. Allah menjawab, ‘Tulisanmu adalah tato’. Ia meminta lagi, ‘Jadikan pembicaraan buatku’. Allah menjawab, ‘Kedustaan’. Ia meminta lagi, ‘Jadikan untukku para utusan’. Allah menjawab, ‘Utusan-utusanmu adalah para dukun’. Dan sekali lagi ia meminta, ‘Jadikan perangkap-perangkap buatku’. Allah menjawab, ‘Perangkap-perangkapmu adalah kaum wanita’.”

Suara yang dibenci Nabi ﷺ adalah suara tolol dan suara mesum

Ini merupakan penamaan yang diberikan oleh Nabi ﷺ dan beliau adalah selalu benar, serta yang dibenarkan ucapannya yang tidak pernah mengucapkan sesuatu berdasarkan hawa nafsu.

Imam At-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits dari Ibnu Abi Laila, dari Atha’ Al-Khurasani, bahwa Jabir radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita:

“Rasulullah ﷺ pernah keluar bersama Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu menuju ke kebun kurma, namun putra beliau ﷺ yang bernama Ibrahim tiba-tiba meninggal dunia. Nabi ﷺ pun meletakkan Ibrahim di pangkuanny seraya mencucurkan air mata. 

Melihat hal tersebut, Abdurrahman bertanya, ‘Mengapa engkau menangis, sedangkan engkau melarang manusia untuk menangis seperti itu?’.

Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya aku tidak melarang manusia untuk menangis. Namun, aku melarangnya dari dua suara tolol dan mesum; suara ketika (1) bersenandung yaitu nyanyian, mainan dan seruling setan. (2) Suara ketika terjadi musibah yaitu mencakar-cakar wajah, merobek-robek pakaian dan teriakan histeris. 

Adapun tangis ini adalah tangis kasih sayang, karena barangsiapa tidak mengasihi, maka dia tidak akan dikasihi. Andaikan bukan karena kematian merupakan perkara yang pasti terjadi dan bahwa orang-orang yang datang kemudian akan bertemu dengan orang-orang terdahulu, niscaya kami lebih berduka melebihi dukaku ini.

Sungguh kami berduka atas kematianmu. Mata ini menangis dan hati berduka, namun kami tidak akan mengucapkan perkataan yang dimurkai Allah ﷻ”. [HR. At-Tirmidzi dan ia mengatakan hadits ini hasan] 

Nyanyian dan ratapan saat terkena musibah adalah dilarang dan haram

Perhatikanlah larangan yang tegas ini (pada hadits diatas, red). Yaitu dengan menamai nyanyian sebagai suara tolol. Tidak cukup itu saja, beliau ﷺ juga menamainya dengan suara mesum.

Masih belum cukup sampai disitu, hingga akhirnya beliau ﷺ pun menamainya dengan nama seruling setan.

Nabi ﷺ juga pernah menyetujui Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu atas penamaan nyanyian sebagai seruling setan. 

Jika hal ini (hadits tentang larangan bernyanyi dan berteriak histeris ketika ada musibah, red) tidak kita ambil kesimpulannya sebagai suatu pengharaman, maka kita tidak akan pernah menarik kesimpulan pengharaman dari setiap larangan. (Setiap larangan yang keluar dari lisan Nabi ﷺ adalah haram, kecuali ada dalil yang menjelaskan kepada sesuatu yang lain, red).

Imam Hasan Bashri rahimahullah mengatakan, “Ada dua hal yang ‘bersaudara’ yang terlaknat, yaitu seruling untuk mengiringi lagu dan ratapan ketika terjadi musibah”.

Abu Bakar Al-Hidzali berkata, “Aku pernah bertanya kepada Hasan Al-Bashri rahimahullah, “Apakah wanita-wanita muhajirat (para Shahabiyah pada zaman Nabi ﷺ, red) melakukan apa yang pernah dilakukan oleh para wanita seperti sekarang ini?”

Beliau menjawab, “Tidak, karena disini ada perbuatan mencakar-cakar muka, merobek-robek baju, mencabuti bulu, memukul-mukul pipi dan suara-suara seruling setan.” 

Beliau rahimahullah melanjutkan, “Ada dua suara yang jelek dan kotor, yaitu nyanyian dan ratapan ketika terjadi musibah.

Allah ﷻ menyebutkan sifat orang-orang mukmin adalah, ‘Orang-orang yang dalam hartanya ada bagian tertentu untuk orang-orang miskin yang meminta-minta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (namun tidak mau meminta-minta).’ [Al-Ma’arij: 24-25]

Namun, kalian justeru menyisihkan bagian tertentu dari harta kalian untuk membayar budak-budak perempuan untuk bernyanyi ketika dalam keadaan suka dan untuk meratap-ratap ketika terjadi musibah.”

Benarkah Rasulullah ﷺ membiarkan anak-anak bernyanyi?

Berkenaan dengan hal ini, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menerangkan, bahwa hal itu memang pernah terjadi di rumah Rasulullah ﷺ. Yaitu, pernah ada dua budak yang masih anak-anak dan belum baligh, yang keduanya bernyanyi di dekat istri beliau Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Namun, nyanyian kedua anak kecil itu bukanlah nyanyian yang diiringi oleh tepuk tangan, gendangan rebana, seruling, alat-alat musik yang terlaknat, minum-minum khamar, mabuk-mabukan, tidak pula dengan pakaian atau tingkah laku yang tidak seronoh. Tidak pula kata-katanya mengandung unsur-unsur mesum atau zina. 

Dan yang perlu digaris-bawahi disini adalah, bahwa mereka adalah budak yang ada di dalam rumah Nabi ﷺ. Mereka berdua belum baligh dan parasnya belum menimbulkan fitnah, serta tidaklah mereka itu melakukannya untuk menghibur orang banyak dan di muka umum, untuk bernyanyi agar diupah atau untuk mendapatkan gaji.

Ibnu Qayyim rahimahullah juga mengatakan, bahwa nyanyian kedua bocah cilik tersebut adalah nyanyian tentang pertempuran untuk memberikan semangat dan keberanian. Bersamaan dengan hal itu, bahwa nyanyian itu adalah nyanyian orang Arab kuno yang dikenal saat terjadi peperangan dan waktunya adalah bertepatan pada hari raya. 

Dalam Ash-Shahihain disebutkan bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah berkata, “Nabi ﷺ mengunjungiku dan ketika itu di sampingku terdapat dua budak wanita yang menyenandungkan nyanyian perang Bu’ats. Lalu beliau ﷺ berbaring diatas kasur sambil membalikkan wajah. 

Tak lama kemudian Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu masuk lalu menegurku sambil berkata, ‘Seruling setan ada di sisi Nabi ﷺ?’ 

Maka Rasulullah ﷺ menimpalinya, ‘Biarkan keduanya bernyanyi’.

Setelah beliau tidak memperhatikan lagi, aku memberi isyarat kepada keduanya, lalu keduanya pun keluar’.”

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah berkata tentang hadits ini, “Nabi ﷺ tidak menolak penamaan yang diberikan oleh Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu mengenai sebutan bahwa nyanyian adalah seruling setan.”

Seruling adalah mu’adzinnya setan

Dikatakan demikian, karena adanya kesamaan. Yaitu, bahwa nyanyian itu adalah bacaannya, sedangkan siulan dan tepuk tangan adalah sembahyangnya.

Oleh karena itu, dalam pelaksanaan sembahyang ini perlu ada yang namanya mu’adzin, imam dan makmum. Dengan demikian, sebagai muadzinnya adalah seruling, imamnya adalah penyanyi dan makmumnya adalah para hadirin. 

Telah disebutkan dalam hadits Nabi ﷺ sebelumnya, bahwa seruling sungguh telah dijadikan oleh Allah ﷻ untuk menjadi mu’adzin bagi setan. Demikian pula, telah disebutkan sebelumnya, bahwa kedustaan merupakan pembicaraan bagi setan. 

Nah, setiap orang hari ini pun sudah tau, bahwa setiap penyanyi yang ada pada hari ini adalah menyenandungkan sya’ir-sya’ir yang penuh dengan kedustaan dan khayalan. Bahkan, terus memotivasi untuk berbuat maksiat, mabuk oplosan, menyuruh berbuat zina, mesum dan bahkan mengajak untuk melakukan perbuatan selingkuhan. 

Belum lagi pada tempat-tempat mesum dan transaksi zina yang banyak beredar di kota-kota dengan kedok, rumah makan, panti pijat, cafe, pub atau tempat-tempat karaoke. Diantara tempat-tempat itu ada yang secara terang-terangan mempromosikan minuman memabukkan, hiburan dansa, tarian tidak seronoh, yang diiringi musik, mabuk-mabukan dan buka hingga malam. Bahkan, para pengunjungnya kebanyakan adalah kaum ABG.

Tempat-tempat tersebut pun selalu eksis dan sulit untuk diberantas karena mendapat bantuan dari berbagai pihak yang menyukai kerusakan moral, asusila dan berbagai proyek jahat untuk menghancurkan generasi muda Islam. Maka, apakah hal ini patut untuk dibiarkan?

Anehnya lagi, para penyanyi-penyanyi dari kaum wanita yang tidak seronoh sering kali didatangkan dan dibayar untuk bernyanyi dengan diiringi alunan musik elekton pada saat perayaan penikahan di zaman ini. Na’udzubillah.

Jika hal ini tidak dapat dikatakan suara tolol, suara mesum, suara yang penuh kedustaan, suara-suara setan yang terus dilestarikan dan merupakan sesuatu yang haram, lalu apa?

Bukankah di dalam hadits telah disebutkan, bahwa bahasa dan bicaranya setan adalah kedustaan? 

Karena ia adalah pendusta yang memerintahkan perbuatan dusta dan menghiasinya. Maka setiap kedustaan yang muncul di jagad ini berarti merupakan hasil dari pengajaran dan pembicaraan setan.

Oleh karena itu, bukankah setiap orang yang berakal tau, bahwa lagu-lagu para penyanyi adalah berisi tentang kedustaan dan kemesuman?

Nyanyian adalah penumbuh kemunafikan, seperti air menumbuhkan tanaman

Ali bin Ja’d berkata, Muhamad bin Thalhah menceritakan kepada kami riwayat dari Sa’id bin Ka’ab Marwazi, dari Muhammad bin Abdurrahman bin Yazid, dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata, “Nyanyian itu menumbuhkan kemunafikan di dalam hati, sebagaimana air dapat menumbuhkan tanaman”. 

Jika ada yang bertanya, “Diantara seluruh jenis kemaksiatan yang ada, dari sisi mana nyanyian itu dapat menumbuhkan kemunafikan di dalam hati?”

Jawaban:

Hal ini adalah bukti yang paling jelas mengenai pemahaman para Shahabat radhiyallahu ‘anhum tentang persoalan (keyakinan) dan amalan hati. Serta, pengetahuan mereka tentang penyakit hati dan obatnya.

Mereka adalah dokter spesialis bagi hati yang tidak seperti orang-orang yang menyimpang dari jalan mereka yang mengobati penyakit hati dengan penyakit yang lebih parah dari pada penyakit yang sudah menjangkitnya. Hal ini sebagaimana kebanyakan orang-orang hari ini, yang mana mereka mengklaim dapat mengobati penyakit jiwa atau raga, namun dengan cara yang menyimpang dan justeru tidak dapat memberikan solusi yang tepat.

Jadi, mereka (orang-orang yang memberikan pengobatan baik piskis maupun fisik dengan sarana yang menyalahi Syari’at, red) adalah seperti mengobati penyakit dengan racun yang mematikan (atau dapat dikatakan, mengobati penyakit dengan penyakit lain yang lebih parah, red).

[nambani penyakit karo penyakit ora ono gunane]

Demikianlah mereka (para dokter gadungan, red) melakukan pengobatan dengan obat yang mereka buat sendiri (bukan obat yang datang dari Allah, red). Lantas, obat ramuan tersebut diberikan kepada sekian banyak pasien. Namun, bukannya sembuh yang didapat, justeru malahan yang terjadi adalah semakin banyaknya penyakit lainnya yang muncul, yaitu penyakit yang tidak pernah ada di kalangan kaum salaf (Para Shahabat Nabi ﷺ, radhiyallahu ‘anhum).

Hal itu adalah karena mereka (dokter gadungan dan juga kebanyakan orang-orang sekarang ini, red) lebih menghindari obat yang bermanfaat yang merupakan hasil ramuan dari Sang Maha Pemberi Syari’at, yaitu Allah ﷻ.

Pada saat yang sama, si pasien juga lebih cenderung kepada obat yang justeru membuat penyakitnya semakin parah. Akhirnya, bencana pun semakin menjadi-jadi dan persoalannya menjadi semakin ruwet. 

Berbagai rumah, jalan, maupun pasar telah penuh sesak dengan orang-orang yang sakit ataupun pasien. Sedangkan, orang yang amat bodoh pun mengklaim telah menjadi dokternya.

Nyanyian dan pengaruhnya yang besar bagi hati hingga membuat orangnya jauh dari Al-Qur’an

Ketahuilah, bahwa nyanyian itu memiliki karakter yang dapat mengubah dan memberikan pengaruh yang besar dalam mewarnai hati melalui kemunafikan dan pertumbuhannya adalah seperti tumbuhnya tanaman yang disirami air.

Diantara karakter nyanyian adalah bahwa ia dapat melalaikan dan menghalangi hati dari memahami dan merenungi Al-Qur’an, serta menghalangi manusia untuk mengamalkan kandungannya.

Al-Qur’an dan nyanyian itu selamanya tidak akan bisa menyatu di dalam hati, karena keduanya jelas-jelas berlawanan dan bertolak belakang.

Al-Qur’an melarang mengikuti hawa nafsu. Al-Qur’an juga memerintahkan pemeliharaan terhadap kesopanan dan kebersihan pribadi, menjauhi berbagai keinginan hawa nafsu dan sebab-sebab kesesatan, serta melarang untuk mengikuti langkah-langkah setan.

Sedangkan nyanyian itu memerintahkan melakukan kebalikan dari semua itu, menganggap—perbuatan keji dan mungkar—sebagai sesuatu baik, mendorong jiwa untuk melakukan keinginan-keinginan yang menyesatkan, sehingga dapat membangkitkan orang yang masih menyembunyikannya. Kemudian mendorong orang yang masih pasif, serta menggerakkannya kepada setiap keburukan dan menyetirnya menuju apa yang dianggapnya menyenangkan.

Nyanyian dan khamar merupakan saudara sepersusuan dan keduanya sama persis dalam hal memicu keburukan. Nyanyian pun dapat dikatakan saudara sekandung khamar, saudara sesusuannya, wakilnya, sekaligus sejawatnya.

Setan telah menjadikan pertalian antara keduanya sebagai pertalian persaudaraan yang tidak dapat dihapuskan serta keduanya telah membuat komitmen untuk selalu ditepati dan tidak akan pernah diingkari oleh keduanya. 

Ia adalah mata-matanya hati, pencuri keperwiraan dan pengganggu yang akan menyusup ke dalam hati, serta mempengaruhi nurani dan perasaan. Lalu, kemudian merayap menuju tempat berkhayal, sehingga pada akhirnya dapat membangkitkan hawa nafsu dan syahwat, kelemahan akal pikiran, perasaan yang tidak punya malu, serta ketololan dan kepandiran.

Nyanyian dan musik akan menghancurkan kegagahan, wibawa, kharisma dan keperwiraan seorang laki-laki

Tatkala anda melihat seorang lelaki yang berwibawa, disegani, memancarkan sinar keimanan, memiliki kecerdasan, keteguhan Islam, serta telah merasakan manisnya Al-Qur’an, namun tiba-tiba ia mau mendengarkan nyanyian. Maka, seketika itu pula kewibawaannya akan turun, rasa malunya akan berkurang, keperwiraannya hilang, serta akan ditinggalkan oleh kharisma dan kegagahan yang pernah dimilikinya. Yang pada akhirnya, setannya akan bergembira, malaikat bagian kanannya akan mengadu pada Allah ﷻ dan Al-Qur’an-Nya pun merasa keberatan, lalu dikiaskan akan berkata, “Ya Allah, jangan kumpulkan aku dengan quran-nya musuh-Mu dalam satu dada!”.

Pertama-tama, ia akan menganggap bahwa mendengarkan nyanyian itu baik, padahal sebelumnya ia anggap jelek. Kemudian ia akan membuka rahasia yang sebelumnya ia tutup-tutupi dan selanjutnya berubahlah ia dari kewibawaan dan ketenangan menuju kepada sikap pandir (banyak bicara) dan banyak dusta.

Tangannya, mulai digerak-gerakkan.
Kepalanya, digeleng-gelengkan.
Pundaknya, diayun-ayunkan.
Kedua kakinya, dihentak-hentakkan.

Kemudian…

Meloncat-loncat seperti mentok.
Berputar-putar seperti keledai di tempat penggilingan.
Bertepuk tangan seperti orang yang mabuk.
Meraung-raung seperti sapi.

Sesekali merintih-rintih dan mengatakan, “aah… aah…” seperti orang yang sedang mengalami kesedihan.
Dan sesekali menjerit-jerit seperti orang gila.

Hal ini pun adalah sesuatu yang jujur, seperti apa yang diceritakannya sendiri oleh orang yang melakukannya dalam sya’irnya seperti berikut:

Masihkan engkau ingat suatu malam…
Ketika kita asyik berkumpul…
Mendengarkan indahnya alunan lagu dan musik hingga pagi…
Di sekeliling kita penuh dengan gelas-gelas nyanyian…

Yang membuat jiwa kita mabuk tanpa henti…
Tiada yang kau lihat disana…
Kecuali semuanya sedang mabuk penuh suka…

Kesukaan pun disitu berteriak…
Jika orang-orang yang sedang menikmati dunia itu memanggil…
Maka hiburan pun menjawab…

Mari kita nikmati…
Kita tidak punya apa-apa…
Kecuali gairah…
Untuk menghiaskan…
Dalam pelayaran kita yang sebentar…

Sebagian orang yang arif ada yang mengatakan, “Nyanyian itu dapat menimbulkan kemunafikan pada suatu kaum, permusuhan pada kaum yang lain, kemesuman pada sebagian orang, serta ketololan pada sebagian yang lain. Juga banyak yang menyebabkan mabuk cinta dan menganggap perbuatan keji sebagai sesuatu yang baik. 

Kecanduan nyanyian akan menyebabkan Al-Qur’an terasa berat bagi hati, serta menjadikan hati tidak suka mendengarkannya. Jika hal ini bukan kemunafikan, maka apa lagi sebenarnya yang dinamakan kemunafikan itu?”

Perlu ditegaskan kembali, bahwa nyanyian adalah quran-nya (bacaannya) setan dan tidak akan mungkin menyatu dengan Al-Qur’an-Nya yang Maha Rahman. Oleh karena itu, mana mungkin keduanya akan menyatu di dalam satu hati.

Pangkal kemunafikan adalah jika yang zhahir (tampak) menyelisihi apa yang bathin. Sedangkan keadaan penyanyi itu hanya ada diantara dua hal:

Pertama, terang-terangan dalam membuka aibnya, sehingga menjadi seorang fajir (pendosa).

Kedua, atau ia akan menampakkan ibadahnya, maka ia pun telah menjadi seorang munafik.

Selesai.

Referensi:

Tulisan diambil dari Kitab Ighasatul Lahfan, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Bab: Berbagai tipu daya setan terhadap manusia. Solo: Al-Qowam

Note: Ada sedikit perubahan dan penambahan kalimat/kata yang tidak merubah maksud.