Sebagai orang yang telah berkomitmen untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadhan dan ingin menjaga kesucian amalnya di bulan tersebut, maka sudah sepatutnya kita mengetahui hal-hal apa saja yang dapat membatalkan puasa.

Pada artikel ini akan membahas beberapa hal yang dapat membatalkan puasa, hal-hal yang diperbolehkan bagi yang puasa, apa kafarat yang harus dibayar bagi yang melanggar kewajiban puasa di bulan Ramadhan, serta apa makna dan hikmah kafarat itu sendiri.

Hal-hal yang dapat membatalkan puasa[1]

  1. Masuknya cairan ke dalam tenggorokan. Baik melalui hidung dengan menggunakan selang, melalui mata atau telinga melalui tetesan cairan atau melalui kemaluan dan dubur dengan menggunakan suntikan.
  2. Sesuatu yang masuk ke dalam tenggorokan. Seperti berkumur-kumur, menghirup air (masuk, red) ke dalam (rongga, red) hidung saat wudhu dan dalam keadaan lainnya.
  3. Keluarnya mani karena melihat lawan jenis, membayangkan senggama, mencium atau bersenggama.
  4. Muntah dengan sengaja. 

Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ, “Barangsiapa yang muntah dengan sengaja, maka ia wajib meng-qadhanya.” [Disebutkan oleh Az-Zabidi dalam Itihafus Sadatil Muttaqin, 4/213 dan Ibnu Hajar dalam Talkhisul Habir, 1/92 dan hadits riwayat At-Tirmidzi 3/225]

Adapun jika tidak sengaja, maka tidak membatalkan puasanya.

  1. Makan, minum atau hubungan badan suami-istri, sekalipun dalam keadaan terpaksa.
  2. Barangsiapa yang makan atau minum karena mengira masih waktu malam, kemudian mengetahui bahwa telah terbit fajar.
  3. Barangsiapa yang makan atau minum karena mengira sudah masuk waktu berbuka puasa, kemudian dia sadar bahwa hari masih siang.
  4. Barangsiapa yang makan atau minum karena lupa, kemudian mengira tidak wajib melanjutkan puasa tersebut karena sudah terlanjur makan (seyogyanya dia tetap melanjutkan puasanya, red).
  5. Masuknya sesuatu yang bukan makanan ataupun minuman ke dalam tenggorokan melalui mulut.

Seperti menelan berlian atau benang, sebagaimana yang dijelaskan dalam atsar bahwa Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Puasa itu karena sesuatu yang masuk dan bukan karena ada sesuatu yang keluar”. [HR. Ibnu Abi Syaibah dan Ibnu Hajar mencantumkannya dalam kitab Fathul Bari]

  1. Membatalkan niat puasa. Walaupun ia belum makan dan minum, dengan niat yang dibatalkan tersebut diartikan sebagai berbuka puasa. Jika tidak demikian, maka tidak membatalkan puasa.
  2. Keluar dari Islam (murtad). Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Jika kamu  mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” [Az-Zumar: 65]

Seluruh perkara diatas dapat membatalkan puasa dan wajib mengganti sesuai dengan hari dimana ia berbua puasa, akan tetapi tidak ada kafarat (baginya, red). Karena kafarat itu ditentukan oleh dua sebab:

1. Bersenggama dengan sengaja.

Hal ini sebagaimana yang tercantum dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, “Seseorang datang kepada Rasulullah ﷺ sembari berkata, ‘Saya telah binasa, wahai Rasulullah’. 

Lantas beliau bersabda, ‘Apa yang membinasakanmu?’

Ia menjawab, ‘Saya telah bersenggama (berhubungan, red) dengan istri saya pada bulan Ramadhan.’

Beliau ﷺ bersabda, ‘Apakah kamu mampu untuk memerdekakan budak?’

Ia menjawab, ‘Tidak’.

Beliau ﷺ bersabda, ‘Apakah kamu mampu untuk berpuasa selama dua bulan berturut-turut?’

Ia menjawab, ‘Tidak’.

Sabda beliau ﷺ, ‘Apakah kamu sanggup memberi makan enam puluh orang miskin?’

Ia menjawab, ‘Tidak’.

Kemudian ia duduk, lalu ada seseorang datang kepada Nabi ﷺ membawa satu bejana yang berisi kurma, lalu Nabi ﷺ bersabda, ‘Ambillah dan sedekahkanlah dengan kurma ini’.

Ia bertanya, ‘Apakah disedekahkan kepada orang yang lebih fakir dari saya? Demi Allah, tidak ada diantara satu keluarga pun di tempat tinggalku yang lebih membutuhkannya melainkan kami’.

Kemudian, Nabi ﷺ tertawa sehingga kelihatan gigi gerahamnya, kemudian beliau bersabda, ‘Pergilah dan berilah keluargamu makan dengannya’.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

2. Makan dan minum dengan sengaja.

Ini merupakan pendapat Abu Hanifah dan Imam Malik Rahimahumallah berdasarkan pada dalil:

“Bahwa ada seseorang berbuka puasa pada bulan Ramadhan, lalu Nabi ﷺ memerintahkannya untuk membayar kafarat.” [Lihat Shahih Muslim, Kitab: Puasa, Bab: Larangan bersetubuh pada siang hari di bulan Ramadhan]

Juga hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ketika beliau berkata, “Bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ sembari berkata, saya telah berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhan dengan sengaja. 

Maka Nabi ﷺ bersabda, ‘Merdekakanlah seorang budak, atau puasa dua bulan berturut-turut, atau memberi makan enam puluh orang miskin.” [HR. Al-Bukhari, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Hal-hal yang tidak membatalkan (diperbolehkan) bagi orang yang puasa

  1. Bersiwak pada siang hari. Akan tetapi, Imam Ahmad memakruhkannya bagi yang berpuasa dan setelah waktu tergelincirnya matahari (sejak waktu Zhuhur).
  2. Mendinginkan tubuh karena teriknya panas, baik dengan mandi atau dengan menyiramkan air ke atas kepala.
  3. Makan, minum dan bersenggama pada (antara waktu, red) malam hari hingga sebelum terbit fajar.
  4. Bepergian untuk perkara mubah, walaupun ia tau bahwa perjalanannya akan menyebabkan ia berbuka.
  5. Berobat dengan obat yang halal, yang tidak sedikitpun masuk ke dalam tenggorokannya. Seperti pengobatan dengan menggunakan jarum, tetapi bukan jarum untuk infus atau suntikan yang memasukkan cairan ke dalam tubuh.
  6. Memamah (mengunyahkan, red) makanan untuk anak kecil. Setidaknya, orang yang melakukannya dengan syarat tidak sedikitpun makanan masuk ke dalam tenggorokannya.
  7. Memakai wewangian, karena tidak ada dalil Syar’i yang melarangnya. 

Perkara yang dimaafkan (jika dilakukan, red) oleh orang yang berpuasa

  1. Menelan air liur sekalipun banyak. Maksudnya air liur sendiri, bukan air liur orang lain.
  2. Muntah dengan tidak sengaja, jika tidak ada sedikitpun yang kembali ke dalam tenggorokannya setelah keluar sampai di ujung lidahnya.
  3. Menelan serangga dengan terpaksa atau tidak sengaja.
  4. Menghirup asap jalanan, asap pabrik, asap kayu bakar dan semua asap yang tidak mungkin untuk dihindari.
  5. Bangun pagi dalam keadaan junub[2], walaupun keadaan junub sepanjang siang.
  6. Mimpi basah.

Mimpi basah tidak membatalkan puasa, sebagaimana tercantum dalam sebuah hadits, “Pena (pencatat amalan) diangkat dari tiga kelompok; orang yang gila sampai dia sadar, orang yang tidur sampai dia bangun dan anak kecil sampai dia dewasa.” [HR. Ahmad dan yang lainnya]

  1. Makan atau minum karena lupa.

Kecuali (menurut pendapat, red) Imam Malik Rahimahullah, beliau berpendapat bahwa wajib menggantinya, jika termasuk puasa wajib sebagai bentuk kehati-hatian. Adapun jika puasa sunnah, maka tidak wajib untuk menggantinya sebagaimana hadits Nabi ﷺ, “Barangsiapa yang lupa sedang berpuasa, kemudian ia makan atau minum, maka sempurnakanlah puasanya. Karena Allah telah memberikan makan dan minum padanya.” [HR. Muslim, Kitab: Puasa, diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dan Ad-Darimi]

Sabda Rasulullah ﷺ, “Barangsiapa yang berbuka pada bulan Ramadhan karena lupa, maka tidak wajib qadha baginya dan tidak pula wajib kafarat.” [HR. Al-Hakim, Ad-Daruqutni dan beliau menshahihkannya].

Penjelasan tentang kafarat dan hikmahnya

A. Kafarat

Kafarat adalah sesuatu yang dapat menghapus dosa yang disebabkan oleh melanggar perintah Sang Pembuat Syari’at (Asy-Syari’). Diantara orang yang melanggar Syari’at adalah orang yang berjima’ dan makan atau minum secara sengaja pada bulan Ramadhan.

Oleh sebab itu, wajib baginya untuk melaksanakan kafarat atas pelanggaran Syari’at ini, yaitu dengan melakukan salah satu dari tiga kafarat:

  1. Memerdekakan hamba sahaya yang beriman.
  2. Berpuasa selama dua bulan secara berturut-turut.
  3. Memberi makan enam puluh orang miskin.

Jumlah yang harus dibayarkan adalah bahwa setiap orang dari enam puluh orang miskin tersebut mendapatkan jatah satu mud (544 gr) dari gandum, kurma dan beras sesuai dengan kemampuannya.

Sebagaimana dalam peristiwa pada hadits yang menjelaskan tentang seseorang yang bersenggama dengan istrinya (pada siang hari di bulan Ramadhan), maka Rasulullah ﷺ memberikan ketentuan tersebut.

Kafarat disesuaikan dengan jumlah larangan yang dilakukannya. Misalnya, orang yang pada suatu hari bersenggama dengan istrinya, kemudian makan atau minum dengan sengaja pada hari yang lainnya, maka wajib baginya membayar dua kafarat.

B. Hikmah kafarat

Hikmah (adanya) kafarat adalah untuk menjaga Syari’at agar tidak dipermainkan, tidak menodai kesuciannya, sebagaimana Syari’at dapat membersihkan seseorang muslim dari dosa-dosa yang telah dilakukannya.

Maka sudah semestinya (wajib, red), kita mengikuti Syari’at dalam menentukan kaifiyat (tata cara, red) dan jumlah kafarat tersebut, sehingga akan tercapai tujuan dari perlaksanaan kafarat tersebut, yaitu untuk membersihkan dosa, serta menghapuskan pengaruhnya dari jiwa.

Adapun kafarat berlandaskan pada firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan buruk.” [Hud: 114]

Rasulullah ﷺ bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, dan ikutilah (perbuatan) kejelekan dengan kebaikan yang akan menghapusnya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” [HR. At-Tirmidzhi dan dia mengatakan hadits ini hasan].

Referensi: Minhajul Muslim, Abu Bakar Jabir, Solo: Insan Kamil


[1] Setiap perkara yang membatalkan puasa yang disebutkan disini semuanya shahih dari berbagai Madzhab. Adapun setiap masalah tersebut adalah berlandaskan dalil dari Al-Qur’an, As-Sunnah, Ijma’ atau qiyas yang shahih.

[2] Adapun yang dimaksud junub disini adalah junub yang tidak membatalkan puasa. Misalnya, seseorang setelah shalat Subuh tidur, kemudian bangun pagi dalam keadaan junub (bisa karena mimpi basah). Setelah itu, ia belum mandi hingga Zhuhur tiba.