Mizutex.com – Selama sebulan penuh kita menempa diri. Dengan melaksanakan puasa di siang hari dan menegakkan shalat pada malam harinya. Disamping itu, lisan tidak pernah kering dari lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Infaq dan Shadaqah pun terasa ringan mengalir kepada mustahiq-nya. Ibadah selama sebulan penuh di bulan Ramadhan pun menjadi sempurna dengan dibayarkannya Zakat Fithri sebelum shalat ‘ied di hari Idul Fithri. Insya Alloh.

Rasa haru dan bahagia tak lagi dapat dibendung seiring dengan gema takbir. Yaitu ketika Shalat Ied diselenggarakan di tempat yang lapang.

Bersama kaum muslimin yang lainnya, raga ini rukuk dan sujud sambil terus mengucapkan syukur kepada Alloh Ta’ala. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin…

Semua rangkaian ibadah yang telah dilaksanakan, tentu semata-mata hanya mengharap wajah Alloh Ta’ala dan hanya mengharap keridhaan-Nya.

Semoga setiap amal yang telah dilaksanakan tidak menyisakan tempat sedikitpun untuk makhluk-Nya.

Segala pujian teruntuk Alloh Ta’ala semata, tiada sekutu baginya. Dan tidak ada ibadah sekecil apapun yang telah dilaksanakan selama bulan Ramadhan, melainkan atas kehendak dan petunjuk-Nya semata. Hanya kepada-Nya kita bersyukur atas nikmat iman dan taufik-Nya yang telah dianugerahkan kepada kita.

Semoga shalawat selalu dilantunkan teruntuk Nabi yang mulia, Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam, dan bagi keluarganya, shahabatnya serta pengikutnya hingga akhir zaman.

Hari Idul Fithri telah tiba, apa pencapaian yang sudah diraih?

Pertanyaan ini mungkin agak menggelitik di benak kita, ataukah justeru tidak ada yang memperdulikannya. Wallohu a’lam.

Terlepas dari hal tersebut, perlu kita flash back sejenak. Tentang apa tujuan sebenarnya kita berpuasa dan apa momentum yang dapat dimanfaatkan dengan adanya bulan Ramadhan?

Jika kita mengingat kembali, bahwa tujuan puasa yang menjadi “target” Alloh Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya yang beriman adalah agar mereka menjadi orang yang bertakwa (Muttaqin). Sebagaimana bunyi ayat:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

[Al-Baqarah: 183]

Rupanya, predikat muttaqin (orang yang bertakwa) ini bukanlah predikat yang mudah dan gampang. Ramadhan kali ini pun telah menjadi saksinya.

Betapa banyak orang yang merasa berat hati melaluinya dan acuh terhadapnya.

Pada saat yang sama, amat sedikit orang-orang yang bersungguh-sungguh padanya dan menjadikannya sebagai sarana untuk meningkatkan kualitas iman dan takwa-nya.

Adalah kesuksesan di bulan Ramadhan dapat dilihat pada hari penghujungnya dan hari setelahnya.

Ketika semua bekal, pakaian dan perhiasannya telah nampak di rona-rona wajah yang berseri-seri.

Namun apakah hakikat pakaian yang sebenarnya bagi orang yang berakal?

“Berbekal-lah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal.”

[Al-Baqarah: 197]

Siapa orang yang bertakwa (Muttaqin)?

Hanya Alloh Ta’ala saja yang paling mengetahui, siapakah diantara hamba-Nya yang sudah sampai pada derajat tersebut. Namun, sedikit banyak dapat dikenali tanda-tandanya.

Lalu apa urgensinya?

Siapakah orang muttaqin tersebut?

Penting sekali untuk diingat, bahwa derajat takwa bukanlah sebatas nama tanpa makna, atau predikat tanpa tanda jasa yang membutuhkan apresasi.

Dan lagi-lagi patut untuk selalu diingat, bahwa takwa adalah tujuan kita bersama dan tujuan setiap orang yang beriman pada Alloh Ta’ala dan hari Akhirat.

Karena, kalau bukan takwa yang menjadi tujuan kita, lalu apa lagi?

Hanya ada 2 kubu yang akan menjadi magnet bagi semua orang, baik disadari maupun tidak.

Pertama, kubu takwa. Adalah tujuan orang beriman dan mereka rela mengorbankan apapun untuk mencapainya.

Sedangkan kubu kesesatan adalah kubu lawannya dan kubu yang kedua. Kesenangan dan perhiasan dunia adalah kawannya. Kehilangan dan jerih payah adalah musuhnya.

Upaya mereka berdua berbeda, tujuan mereka berbeda, semangat mereka berbeda dan hasilnya sangat berbeda.

Lantas, apakah Alloh Ta’ala akan memberikan ganjaran yang sama?

Perjalanan menuju takwa

Jika seseorang tidak pernah berusaha berakit ke hulu, ia tidak akan bisa menikmati betapa sejuknya udara pegunungan.

Demikian pula halnya dengan takwa, siapa yang tidak pernah mengejarnya, takkan pernah bisa ia akan mencicipi manisnya Jannah.

Adapun orang yang lalai dari tujuan ini (takwa), tak ada pilihan lain melainkan ia pasti akan terjerumus dalam tipu daya syetan. Kemudian Alloh Ta’ala akan mengumpulkannya bersama syetan itu di neraka bersama-sama dalam keadaan saling berbantah-bantahan.

Sebagaimana janji Alloh Ta’ala dalam ayat berikut:

“(Syetan)[1] yang menyertainya berkata, ‘Ya Rabb kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang memang berada dalam kesesatan yang jauh’.”

[Qaaf: 27]

Sedangkan puasa Ramadhan hanyalah salah satu sarana (momentum) untuk menjadi orang yang bertakwa (muttaqin) yang hakiki.

Bagi mereka yang lalai dari tujuan tersebut, akan “dihadiahkan” kepadanya syetan yang menyesatkan sebagai kawannya. Baik dari golongan jin ataupun manusia.

Berkawan akrab di dunia, namun berbantah-bantahan di dalam api neraka.

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Rabb Yang Maha Pemurah (yaitu Al Quran), kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan) maka syetan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”

[Az-Zukhruf: 36]

Antara orang yang bertakwa dan orang yang tersesat

Alloh Ta’ala telah memberikan gambaran yang sangat indah dan gamblang tentang perbedaan antara orang yang bertakwa dan orang yang tersesat. Hal ini tersirat dalam Al-Qur’an Surah Muhammad.

“Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang mana (syetan) menjadikannya memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?

Perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa: Di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak Asin (tidak berubah rasa dan baunya), dan sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, dan sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring. Mereka (orang yang bertakwa) memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka.

(Apakah) sama dengan orang yang kekal dalam neraka jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?”

[Muhammad: 14-15]

Imam Ibnu Katsir rahimahulloh menjelaskan tentang makna ayat ini:

“Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabbnya,” Yakni berdasarkan bashirah (petunjuk diatas ilmu Syar’i) dan keyakinan pada perintah dan Dien Alloh Ta’ala yang telah diturunkan-Nya melalui Kitab-Nya, baik berupa petunjuk, maupun ilmu, serta fithrah yang lurus (tidak menyimpang) yang telah Dia ciptakan dalam dirinya.

“(Apakah) sama dengan orang yang mana (syetan) menjadikannya memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?” Maksudnya, (keadaan) orang yang pertama itu sama sekali tidak sama dengan yang lainnya (yang kedua).

Oleh karena itu, jika perlu ditambahkan lagi, bahwa momentum Ramadhan merupakan suatu batu loncatan agar hati seseorang menjadi lapang dan lunak akan hidayah dan taufik Alloh Ta’ala.

Kemudian ia menjadi lebih bersemangat dan rajin untuk meningkatkan ketakwaannya dengan cara merealisasikan bentuk-bentuk ketaatan kepada Alloh Ta’ala dalam wujud yang lainnya.

Dimana hal itu, tidak mungkin dapat dijewantahkan secara paripurna, kecuali dengan pelan-pelan mengasah bashirahnya. Kemudian juga berusaha untuk mempertajam keyakinannya pada Dien-Nya dan ketundukannya pada perintah Alloh Tala’a dalam Kitabulloh Al-Qur’an.

Inilah diantara hakikat takwa yang dikehendaki oleh Alloh Ta’ala bagi orang-orang yang beriman dan agar mereka mau mencapainya.

Dikarenakan takwa itu adalah lebih khusus lagi daripada panggilan iman, karena itulah Alloh Ta’ala menyeru orang-orang mukmin agar berpuasa dalam Surah Al-Baqarah 183.

Memperoleh setiap yang diupayakan

Setiap keringat tak ada yang sia-sia di sisi Alloh Ta’ala dan Dia Maha Teliti atas amalan sekecil apapun untuk mendapatkan ganjaran di Akhirat kelak.

Adalah jerih payah seorang mukmin agar menjadi orang yang bertakwa yang hakiki, tidak sama ganjarannya dengan orang yang bersantai-santai dan lalai dari Pengajaran Rabb Yang Maha Rahman.[2]

Ganjaran bagi orang-orang yang bertakwa di Yaumul Akhirah adalah beraneka ragam sungai di Jannah, yang tidak “Asin” dan lezat rasanya. Sedap dipandang, namun nikmat jika dirasa.

Mereka tidak merasakan sukar maupun sedih di dalamnya, serta abadi selamanya. Sebagai balasan bagi mereka, atas segala penolakannya terhadap tipu daya nafsu syahwat dunia dan perhiasannya.

Dahulu mereka selalu haus akan petunjuk Alloh Ta’ala dan bersegera untuk melaksanakannya. Seraya waspada terhadap ajakan teman yang menyesatkan, yang mengajak pada pengabaian (lalai) pada ayat-ayat Al-Qur’an.

Apakah sama kedudukan orang yang bertakwa di Jannah yang tinggi dengan orang-orang yang lalai dan mendekam di kerak neraka Jahannam yang paling rendah dan hina?

Orang-orang yang bertakwa di Jannah mendapat minuman yang indah dipandang, lezat dikecap dan harum baunya.

Sedangkan orang-orang yang lalai dari petunjukkan Alloh Ta’ala dan berteman dengan syetan akan merasakan betapa menderitanya berteduh di bawah api neraka.

Tak ada sedikitpun kenikmatan dunia yang bisa mereka banggakan.

Ataupun kawan dekat yang dapat menolongnya dari penderitaan tersebut. Bahkan, justeru mereka akan saling berbantah-bantahan siapa yang menjadi biang atas ketersesatannya mereka ketika didunia.

“Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku (Alloh) dahulu telah memberikan ancaman kepadamu.”

[Qaaf: 28]

Maka ketika panasnya siksaan Jahannam menyelimuti tenggorokan orang-orang yang tersesat, hingga membuat mereka semua merasa kehausan.

Baginya minuman yang mendidih yang busuk baunya dari neraka Jahannam.

Sehingga ketika minuman itu sudah memasuki pencernaannya, maka akan membuat ususnya terpotong-potong. Laksana daging yang digoreng dengan minyak yang mendidih dan sangat panas.

Na’udzubillah… na’udzubillah… wa astaghfirullohal ‘azhim…

لَا يَسْتَوِيْ غُبَارُ خَيْلِ اللهِ فِي  ***  اَنْفِ امْرِئٍ وَدُخَانُ نَارٍ تَلْهَبُ

Tidaklah sama antara debu pada kuda Alloh *** dengan hidung seseorang dan asap api (neraka) yang berkobar.[3]

Semoga Alloh Ta’ala melindungi kita dari siksaan api neraka. Aamiin

————————

[1] Syetan yang menyesatkan bisa dari golongan jin maupun teman dari golongan manusia

[2] “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Rabb Yang Maha Pemurah (yaitu Al Quran), kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan) maka syetan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” [Az-Zukhruf: 36]

[3] Kutipan isi surat nasehat Imam Abdulloh bin Mubarak rahimahulloh kepada shahabatnya Fudhail bin ‘Iyadh rahimahulloh yang ketika itu sedang menyibukkan diri dalam ibadah di Masjidil Haram, tepatnya di depat Ka’bah.

Ketika Fudhail bin ‘Iyadh menerima surat nasehat tersebut, lantas air matanya mengalir deras. Hal ini dikarenakan beliau merasa tertegur oleh nasehat dari Abdulloh bin Mubarak, dan beliaupun membenarkan atau mengiyakan perkataan sahabatnya.

Adapun Imam Abdullah bin Mubarak rahimahullah ketika menulis surat tersebut, adalah beliau sedang berada di front terdepan dalam sengitnya jihad di jalan Allah dalam rangka melawan hawa nafsu dan melawan orang-orang kafir harby untuk mempertahankan tsughur kaum muslimin. Setelah menerima surat dari Abdullah bin Mubarak, maka Imam Fudhail bin ‘Iyad lantas membacakan sebuah hadits tentang keutamaan jihad di jalan Allah dengan menggunakan kuda-kuda pilihan. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir pada akhir Surah Ali Imran]