WhatsApp-Button

Mizutex.com — Dzikrulloh, yang difahami dengan arti “mengingat Alloh” selama ini hanya dipahami secara sempit dan tidak sesuai dengan makna ayat dalam Al-Qur’an. Khususnya tentang tafsir surah Al-Ankabut ayat 45.

“Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Marilah kita tenang sejenak dan mencoba untuk meluangkan waktu guna mentadabburi makna yang lebih dalam dari ayat tersebut.

Ingatnya Alloh kepada seorang hamba adalah lebih agung

Pernahkah kita menyadari dengan baik sebelumnya, ternyata kepedulian Alloh ta’ala kepada kita sesungguhnya sangatlah besar. Mungkin kita hanya memahami bahwa kepedulian Alloh kepada kita, besarannya dihitung secara matematis saja.

Yaitu seberapa besar Alloh memberikan bagian kekayaan duniaNya kepada kita. Umumnya seperti itu, kalau mau jujur dari dalam hati.

Walhasil, banyak yang memahami keliru. Bahwa jika Alloh memberikan kekayaan yang banyak kepada seseorang dan memenuhi setiap kebutuhan finansialnya, maka orang-orang menganggap perhatian Alloh kepadanya begitu besar.

Demikian pula sebaliknya, jika Alloh menahan rizkiNya kepada seseorang, sehingga membuatnya kekurangan harta dan miskin, maka orang-orang menganggap, bahwa perhatian Alloh kepadanya sangat kecil.

Mungkin kita adalah termasuk orang yang berfikir demikian.

Apalagi jika harus menghadapi cobaan iman yang begitu berat, baik berupa musibah, utang, harta, intimidasi atau yang lainnya. Sehingga, seakan-akan nama baiknya menjadi tercemar.

Biasanya, kalau iman sudah melemah dan menghadapi keadaan seperti itu, ia akan menarik kesimpulan bahwa dirinya tidak sedang dalam pertolongan Alloh.

Padahal bukanlah demikian caranya kita mengukur sejauhmana besarnya perhatian Alloh ta’ala kepada kita.

Akan tetapi, yang benar adalah jika kita dimudahkan oleh Alloh untuk mendapatkan petunjukNya berupa Tauhid yang hanif dan kita dimudahkan untuk mengaplikasikan Islam pada diri kita, maka ketika itulah perhatian Alloh kepada kita sangatlah besar.

Karena, sesungguhnya Alloh ta’ala memberikan dunia kepada siapa yang Dia cintai dan tidak Dia cintai. Sedangkan Alloh ta’ala tidak memberikan Dien melainkan kepada hanya yang Dia cintai saja.

Sabda Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam, “Barangsiapa yang Alloh inginkan padanya kebaikan, niscaya Dia pahamkan baginya Agamanya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Agar hambaNya tidak tersesat

Diantara Rahmat Alloh yang paling agung adalah, Alloh mengutus kepada umat manusia seorang Nabi dan Rasul sejak Nabi Adam hingga Rasul Muhammad Shallalohu ‘alaihi wasallam.

Alloh tidak pernah memutus masa sebentarpun, melainkan pasti ada Nabi yang mengawal umat Islam dari masa ke masa. Yaitu sejak Adam hingga Isa ‘Alaihumas salam.

Dan sudah lazim bagi umat Islam sejak sebelum Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam, bahwa antara Nabi yang satu dengan yang lainnya saling berjumpa dan bersaudara kandung. Seperti Musa, Harun dan Ibunda Maryam.

Kemudian masa fathroh selama 600 tahun tanpa Nabi dan Rasul, hingga diutusnya Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam.

Sedangkan beliau adalah penutup para Nabi dan Rasul, serta menjadi Rahmat Alloh yang paling agung bagi umat manusia, dengan Syariat yang beliau bawa dan disempurnakan oleh Alloh ta’ala.

Syariat (Al-Qur’an) yang semestinya menjadi pemutus perkara dan rujukan hukum bagi seluruh umat manusia. Lebih khusus umat muslimin yang menyatakan dirinya beriman kepada Alloh, KitabNya dan Rasul-rasulNya.

Karena Al-Qur’an adalah hukum yang adil dari Alloh Rabb semesta alam, dan dengan Kitabulloh itulah, umat manusia berhukum sejak zaman Nabi dan Rasul sebelum Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam.

Karunia Alloh yang paling agung adalah Rasul dan Kitabulloh

Diutusnya Rasul dan Kitabulloh itulah, bukti besarnya perhatian Alloh yang paling agung yang patut kita syukuri dan harus kita ingat. Dan hal itu merupakan Maha Agung dan Maha Pemurah yang hanya dimiliki Alloh kepada hamba-hambaNya. Supaya hambaNya menyadari apa hakikat mereka hidup dan untuk apa mereka hidup, serta kepada siapa mereka ta’at dan mengabdi.

Adalah Rasululloh Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam dan Al-Qur’an yang beliau bawa sebagai rizqi Alloh yang tak ternilai harganya. Yang harus kita cintai dan direalisasikan.

Dengannya kita mengetahui antara iman dan kebathilan, serta mengetahui kemana jalan yang mengantarkan kepada ridha Alloh dan kemurkaanNya.

Jika demikian, bukankah ingatnya Alloh kepada hamba-hamba adalah lebih agung jika kita mau mengingat-Nya?

Seandainya Alloh tidak peduli dengan masa depan akhirat kita dan kita diciptakan untuk hal yang sia-sia dan tidak ada artinya, tentu Dia tidak akan mengutus kepada umat manusia seorang Rasulpun dan Kitab yang menjadi pedoman hidup.

Sehingga kita dibiarkan tersesat dan generasi kita menjadi umat yang memusuhi Alloh dan Rasul-rasulnya. Wal ‘iyyadzu billah.

Kalaulah cahaya iman hanya berfungsi untuk menerangi hati sanubari, tentulah Rasululloh tidak dicerca atau diusir oleh kaumnya dan keluarganya. Karena beliau adalah orang yang paling santun dan penyayang kepada semua orang.

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

“Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah itu lebih besar (keutamaannya). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Alloh memerintahkan kepada kita untuk membaca Kitabulloh Al-Qur’an dan mengamalkannya. Kemudian Alloh perintahkan kepada kita tentang kewajiban Shalat dan mengingat Alloh (Dzikrulloh). Sementara Alloh mengabarkan, bahwa kedudukan Dzikrulloh adalah lebih agung daripada Shalat itu sendiri.

Jadi bukanlah seperti yang difahami oleh orang-orang liberal yang sesat, bahwa yang penting itu adalah mengingat Alloh, itu sudah cukup, walaupun tidak sholat 5 waktu. Bukanlah demikian.

Perlu ditegaskan kembali, bahwa makna Dzikrulloh sangatlah luas dan tidak sempit difahami sebagai tasbih, tahmid dan tahlil saja.

Imam Ibnu Katsir rahimahulloh, menjelaskan tentang makna ayat tersebut, bahwa:

Dari Ali bin Abi Thalhah berkata, dari Ibnu Abbas Radhiyallohu ‘anhu tentang firman Alloh Ta’ala, Dan mengingat Alloh itu lebih besar (keutamaannya), “Sesungguhnya ingatnya Alloh kepada hamba-hambaNya lebih agung jika mereka mengingatNya, dibandingkan dengan ingatnya mereka kepadaNya”. Demikian yang diriwayatkan oleh banyak perawi dari Ibnu Abbas Radhiyallohu ‘anhu. (Lihat: Tafsir Ibnu Katsir)

Ayat tersebut juga berkaitan erat maknanya dengan ayat sebelumnya no. 44

خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۚ

“Alloh menciptakan langit dan bumi dengan haq…” (QS. Al-Ankabut 44).

Maknanya adalah, bahwa Alloh ta’ala hendak mengabarkan kepada manusia tentang kekuasaanNya yang agung. Dimana Dia menciptakan langit dan bumi dengan haq, bukan sekedar untuk tujuan sia-sia atau main-main. Melainkan Agar setiap orang akan dibalas sesuai dengan apa yang ia kerjakan (QS. Thaha 15).

 Ayat tersebut juga berkaitan erat maknanya dengan Surah Al-Ahqaf ayat 3

Bahwa Alloh ta’ala menciptakan manusia dan mengutus kepada mereka seorang Nabi dan Rasul serta Kitab yang mengokohkan SyariatNya. Sehingga dengannya umat manusia hidup dan beragama. Inilah tujuan dan hakikat mengapa manusia ini diciptakan.

Untuk Alloh. Bukan untuk diri mereka sendiri.

There is no God but Alloh
There is no God but Alloh

Maka, telah kita saksikan bahwa banyak sekali umat manusia menganggap remeh perkara ini. Sedangkan mereka telah menyaksikan siksa Alloh kepada orang-orang yang menyelisihi Kitabulloh dan Syariatnya di zaman sebelum Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam sangatlah pedih.

Adapun orang-orang kafir adalah mereka yang berpaling dari cahaya Islam dan mereka senantiasa seperti itu.

مَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى ۚ وَالَّذِينَ كَفَرُوا عَمَّا أُنْذِرُوا مُعْرِضُونَ

“Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan haq dan dalam waktu yang ditentukan. Namun orang-orang yang kafir berpaling dari peringatan yang diberikan kepada mereka.” (QS. Al-Ahqaf 3).

Demikianlah, betapa besar dan betapa agung karunia Alloh kepada kita, jika kita mau mengingatNya. Dan diantara bentuk ingatnya Alloh kepada hamba-hambaNya adalah dengan diutusnya Rasul-rasul di setiap zaman kepada kita yang pembawa risalah Islam dan mengajarkan Tauhid kepada kita.

Hal itulah sesuatu yang jauh lebih agung dibandingkan Dzikir-dzikir kita kepadaNya, serta dibandingkan kenikmatan dunia yang fana ini.

Namun sayang, betapa banyak umat manusia itu mendurhakai setiap Rasul yang diutus, sebagaimana Fir’aun yang durhaka kepada Musa ‘alaihissalam.

Pun demikian halnya kita yang hidup dizaman ini, umumnya pengakuan cinta kepada Rasululloh Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam hanya sebatas klaim semata.

Faktanya, banyak risalah dan Syari’at beliau yang dikebiri dan dicemooh.

Jika demikian halnya, amatlah sedikit hambaNya yang bersyukur.