Mizutex.com – Jilbab Syar’i menurut Islam itu bagaimana? Mungkin anda adalah salah satu muslimah yang tergerak hatinya untuk mengenali lebih dalam tentang bagaimana jilbab Syar’i yang benar. Sebagaimana sudah lazim, bahwa benggunakan jilbab Syar’i memang harus kita lakukan, karena hal tersebut merupakan bagian dari perintah Alloh. Jilbab Syar’i menurut Islam yang benar harusnya seperti ini.

Sebagaimana kita taat pada perintah Alloh tentang puasa, oleh karena itu tentu kita juga akan taat pada perintah Alloh tentang Jilbab Syar’i. Iya ‘kan…!?

Banyak versi kriteria Jilbab Syar’i yang beredar di dunia maya. Karena banyaknya pendapat, mungkin anda menjadi bingung, mana pendapat yang benar dan dapat dipertanggung-jawabkan di hadapan Alloh Subhanahu wata’ala.

Sederhananya, bahwa jilbab Syar’i adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar lagi orang setiap wanita yang menyatakan dirinya sebagai muslim. Karena ia adalah pakaian kemuliaanmu dan yang memerintahkannya adalah Dzat Yang Mahamulia.

Maka sudah sepatutnya, orang yang mulia adalah orang yang mendengarkan penuturan Dzat Yang Mahamulia. Demikian pula sebaliknya, orang yang rendah adalah orang yang tidak menggubris apa yang diperintahkan oleh Dzat Yang Mahamulia.

Untuk memahami bagaimana jilbab Syar’i menurut Islam yang benar, maka kita harus telusuri kembali bagaimana asal-muasal dikatakan istilah “Jilbab” pada pertama kali perintah ini diturunkan. Karena, jika kita memahami arti jilbab dengan makna kerudung atau sekedar penutup kepala, maka kita akan mendapati banyak sekali pendapat yang tidak akan ada habisnya.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa perkembangan fashion jilbab sekarang ini sudah sangat pesat dan modelnya sudah sangat banyak. Setiap orang menyebut apa yang mereka gunakan sebagai penutup kepala itu adalah jilbab Syar’i, padahal sejatinya bukan.

Oleh karena itu, pada kesempatan yang berharga ini, kami mencoba untuk mengupas secara ringkas bagaimana jilbab Syar’i dalam pandangan Islam yang benar, insya Alloh…

Jilbab Syar’i menurut Islam yang benar harusnya seperti ini

Sebagaimana yang telah kami singgung sebelumnya, bahwa untuk memahami makna jilbab Syar’i menurut Islam, maka kita harus kembali pada asal-muasal perintah jilbab ini diturunkan. Oleh karenanya, kami akan mengajak anda untuk teliti dalam memahami kata demi kata yang ada di dalam ayat Al-Qur’an berikut ini.

Jilbab merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan wanita muslimah. Keberadaan Jilbab merupakan gaun keagungan bagi muslimah dan sebagai perisai (pelindung) dari niat orang yang jahat.

Jilbab merupakan kewajiban bagi setiap wanita Muslimah, yang tertuang pada perintah Alloh Subhanahu wata’ala dalam Surah Al-Ahzab. Sebelum perintah jilbab diturunkan oleh Alloh Ta’ala, para Shahabiyat (Muslimah) di zaman Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam belum memakai jilbab atau penutup kepala. Hingga ayat ini turun dan mereka bergegas pulang ke rumah-rumah mereka untuk menutup aurat mereka.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menutupkan Jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (QS. Al-Ahzab 59)

Marilah kita memahami makna Jilbab sesuai tafsirnya, seperti apa yang dijelaskan oleh para Shahabat Rasululloh Radhiyallohu ‘anhum.

Imam Al-Qurtubi yang merupakan salah seorang Ulama Tafsir Al-Qur’an, menjelaskan tentang makna Jilbab dalam ayat diatas:

“Firman Alloh, ‘Mengulurkan Jibabnya’, bahwa Jalaabib adalah bentuk jamak dari kata Jilbab, yaitu kain yang lebih lapang daripada khimar (kerudung)”.

Hal ini menunjukkan dengan jelas, bahwa perintah kepada wanita muslimah tentang Jilbab adalah kain penutup kepala yang lapang dan lebar, bahkan lebih lebar lagi dengan yang namanya khimar (kerudung). Bukanlah jilbab itu sebagai kain penutup kepala yang ukurannya kecil atau mini, yang sering disebut masyarakat awam dengan istilah “kerudung”. Dan bukan juga kain penutup dengan motif cantik yang menghiasi hijab mereka.

Lebih jelas lagi, adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Qurtubi selanjutnya:

“Jilbab adalah kain atau pakaian yang menutupi seluruh tubuh. Sebagaimana yang terdapat dalam (hadits) Shahih Muslim, diriwayatkan dari Ummu ‘Athiyah, beliau berkata, ‘Wahai Rasululloh, salah seorang diantara kami ada yang tidak mempunyai Jilbab’, Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hendaklah saudarinya memberikan kepadanya Jilbab (penutup seluruh tubuhnya, edt)’.”

Penjelasan dan dalil-dalil yang disampaikan oleh Imam Al-Qurtubi diatas dapat disimak secara lengkap dalam kitab Tafsir Al-Qurtubi, pada ayat 59 dari surah Al-Ahzab.

Adapun jika kita merujuk pada penjelasan yang disampaikan oleh Shahabat Rasululloh Abdulloh bin Abbas Radhiyallohu ‘anhuma, maka kita akan mendapatkan penjelasan yang gamblang, sebagaimana berikut:

“Alloh Subhanahu wata’ala memerintahkan kepada wanita Mukminat bila keluar rumah untuk suatu kebutuhan, agar menutup wajah mereka dengan Jilbab yang diulurkan dari atas kepalanya dan hanya menampakkan kedua mata mereka saja”.

Riwayat atsar diatas memiliki sanad yang hasan, sebagaimana yang dinyatakan oleh Syaikh Abdul Qadir Habibulloh As-Sindiy. Lihat Raff’ul Junnah Amama Jilbabil Mar’ah fil Kitab was Sunnah, hal 38. Atsar ini memiliki saksi yang sangat kuat dengan sanad yang shahih dari Ubadah As-Salmaniy.

Bagaimana kriteria Jilbab wanita muslimah dalam pandangan Al Qur’an

Bagaimana kriteria Jilbab wanita muslimah dalam pandangan Al Qur’an

Sebagai informasi tambahan, jika kita memperhatikan catatan kaki dari Al-Qur’an terjemah Indonesia, maka terdapat penjelasan pada kata Jilbab di ayat tersebut:

“Jilbab adalah baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, wajah dan dada”.

Jadi, apakah kita masih ragu tentang wajibnya menutup kepala dan wajah dengan Jilbab Syar’i yang sesuai dengan perintah Alloh Rabbil ‘alamin dalam Al-Qur’an?

Jilbab itu bukanlah jilbab yang hanya menutupi rambut saja. Bukan juga sekedar menutupi leher atau dada saja. Akan tetapi, Jilbab adalah kain yang menutup seluruh tubuh, Yup! Seluruh tubuh, bukan hanya sebagian dari anggota tubuh. (Untuk pembahasan yang lebih luas, silahkan membaca artikel kami tentang Bagaimana kriteria Jilbab wanita muslimah dalam pandangan Al-Qur’an?).

Cukupkah jika yang diberi jilbab hanya hatinya saja?

Setelah kita memahami dengan baik bagaimana kriteria jilbab Syar’i menurut Islam yang benar, maka kini saatnya kita mewaspadai pernyataan yang menyimpang tentang wajibnya perintah jilbab.

Karena, banyak sekali yang membelotkan makna perintah jilbab yang ada di dalam Al-Qur’an dengan pernyataan-pernyataan yang menyimpang dan bertentangan dengan Kitabulloh dan Sunnah Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam.

Mulai dari ustadz gadungan, hingga ulama bayaran, mereka menjual ayat-ayat Alloh dengan harga yang murah dan menggembosi semangat wanita Muslimah yang hendak memakai jilbab Syar’i untuk menutup aurat mereka.

Banyak yang berkata, bahwa jilbab itu sudah cukup diletakkan di dalam hati tanpa perlu menutupi kepala dan seluruh tubuh.

Maka, sungguh perkataan ini adalah perkataan yang menyimpang yang menentang Alloh dan Rasul-Nya. Sebab, andai saja cukup jilbab itu diletakkan di dalam hati saja, maka untuk apa perintah Alloh tentang jilbab di dalam Al-Qur’an?

Untuk apa penjelasan yang disampaikan oleh para Shahabat Rasululloh tentang jilbab Syar’i?

Untuk apa para istri Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam dan para wanita Mukminah di zaman Rasululloh memakai jilbab Syar’i yang menutup seluruh tubuh?

Semua itu tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka untuk tunduk pada hukum Alloh Ta’ala yang Maha Agung dan dalam rangka untuk menutup rapat-rapat pintu tabarruj yang menjadi alat bagi syetan untuk menghancurkan anak adam.

Dikarenakan, terbukanya aurat adalah jalan bagi Syetan untuk merusak generasi umat manusia (para wanitanya) dan sebagai jalan untuk menyesatkan mereka. (Baca: Tipu daya pakaian tabarruj yang menggiring pada makar iblis).

Agar tidak termasuk orang yang tersesat, taatlah pada perintah Alloh dan RasulNya

Sebagai seorang mukmin, tidak ada pilihan lain bagi mereka ketika mendengar perintah dari Al-Qur’an atau sabda Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam. Melainkan hanya mendengar dan taat.

Tidak ada pilihan lain bagi mereka kecuali hanya tunduk dan patuh. Bahkan, dapat dikatakan bahwa tidak ada lagi yang namanya negosiasi atau mencari jalan lain yang paling toleran bagi dirinya, sehingga bisa menyesuaikan dengan hawa nafsunya.

Lebih khusus dalam masalah ini adalah Jilbab dan baju gamis Syar’i dengan persepsi yang sesuai dengan makna ayat atau asbab nuzulnya ayat.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan (hukum), akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab 36)

Oleh karena itu, sebagai hamba Alloh, yang tidak memiliki ilmu sedikitpun melainkan hanya ilmu yang dikaruniakan Alloh, sepantasnyalah kita tunduk, patuh dan taat kepada Rabbul ‘alamin yang Maha memiliki ilmu dan pengetahuan.

Sepantasnyalah kita taat pada perintah Alloh Ta’ala, agar kita tidak tersesat disebabkan oleh kebodohan kita dan pembangkangan kita pada perintahNya. (Baca: Baju gamis Syar’i trend wanita muslimah yang terhormat).

Demikianlah penjelasan singkat tentang Jilbab Syar’i menurut Islam yang benar harusnya seperti ini. Semoga dapat diambil manfaatnya dan semoga penjelasan ini dapat difahami dengan baik. Kita memohon kepada Alloh Subhanahu wata’ala agar berkenan menolong kita dan memudahkan kita untuk taat kepada setiap perintahNya. Semoga Dia berkenan untuk mengistiqomahkan kita untuk memakai jilbab dan melindungi kita dari celaan orang-orang yang suka mencela. Aamiin.

 

 

Baca juga artikel berikut ini: