Mulianya adab mencerminkan bagaimana kualitas ilmu seseorang

Zaman telah menjadi saksi yang tidak berdusta, bahwa selamanya seseorang tidak akan pernah mencapai puncaknya ilmu jika belum memiliki adab yang baik. Belum pernah ada dalam catatan sejarah, seorang Nabi dan Rasul memiliki perangai yang buruk atau adab yang buruk. Karena para Nabi dan Rasul adalah mereka yang paling berkualitas ilmunya dan paling banyak amal kebajikannya.

Melalui ucapan dan perbuatan para Nabi dan Rasul, pengetahuan, ilmu, adab dan Syari’at diperoleh. Sebab itulah, orang-orang terdekat dari para Nabi adalah orang yang mulia adabnya, baik akhlak dan perangainya. Kemudian begitu juga orang yang meniti jejaknya, mereka adalah orang yang terbaik pula ilmunya dan adabnya.

Darinya-lah terlahir generasi yang mulia dan beradab. Sehingga layak untuk disebut sebagai peradaban.

Adapun orang yang miskin adab, tak mungkin mampu bertahan disekitar mereka (para Nabi). Disebabkan minimnya kesabaran, ketawadhu’an dan kesantunan.

Padahal, ilmu itu tidak memancar melainkan dari lisan para Nabi dan Rasul. Sehingga, bagaimana seseorang mendapatkan puncaknya ilmu, kalau tidak pernah menjadi orang yang terdekat dengan para Nabi atau dekat dengan orang yang mengikuti jejaknya para Nabi?

Mulianya adab mencerminkan bagaimana kualitas ilmu seseorang

Ilmu akan melahirkan keberanian

Mulianya adab dan tingginya ilmu, akan melahirkan keimanan, keberanian dan keteguhan. Karena mereka memandang, bahwa sifat pengecut atau pecundang adalah sifatnya orang munafik dan pendusta.

Ada banyak ayat yang menyebutkan tentang hal ini. Diantaranya adalah, firman Alloh Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangatlah dibenci Alloh jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.

[Ash-Shaff: 2-3]

Indikasi keimanan akan ada pada pada diri seseorang ketika ia mengerjakan apa yang mereka sampaikan. Perkataannya tidak bertentangan dengan ilmunya dan ilmunya juga tidak menyelisihi perbuatannya.

Dalam bahasa yang lain, akal itu berpihak kepada orang yang menyerukan Al-Birru (Iman), sedangkan ia juga tidak lupa dengan dirinya, yaitu tetap tsabat dalam keimanan. Jadi, bertentangan dengan teori lilin.

Jika tidak demikian, maka ia telah terkena ayat, sebagaimana orang-orang Bani Israil mendapat celaan:

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Mengapa kamu menyuruh orang lain kepada Al-Birru (untuk beriman), sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu berakal?”

[Al-Baqarah: 44]

Mulianya adab mencerminkan bagaimana kualitas ilmu seseorang

Mulianya adab sejalan dengan kualitas ilmunya

Orang yang paling mulia adabnya, akhlaknya dan ilmunya, setelah Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallohu ‘anhu. Iman beliau, jika ditimbang dengan iman seluruh manusia, masih lebih berat timbangan iman Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Oleh karena itu, beliaulah orang yang paling pemberani dan berjiwa ksatria, setelah Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam.

Abu Bakar Ash-Shiddiq juga yang berada di garda terdepan untuk menaklukkan orang-orang yang beringas dan membangkang terhadap Islam. Ketika banyak orang merasa gentar, namun Abu Bakar radhiyallohu ‘anhu tetap teguh dan tsabat.

Beliau pula orang yang paling takut terhadap ketergelinciran terhadap ilmu yang menyimpang dan meninggalkan jalan Islam meskipun hanya sejengkal. Karena itulah, Abu Bakar As-Shiddiq menjadi Shahabat Rasululloh yang paling disegani, berwibawa dan dita’ati ketika menjadi Khalifah.

Namun, beliau juga adalah orang yang paling tinggi kualitas ilmunya, paling tawadhu’, tidak sombong dan paling besar khasy-yahnya kepada Alloh Ta’ala.

Sebagaimana hal ini juga diakui oleh Umar bin Khattab radhiyallohu ‘anhu, Ali bin Abi Thalib radhiyallohu ‘anhu dan Shahabat senior yang lainnya.

Padahal, kita sudah mengenal, bahwa Shahabat Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam yang tegas dan mendapat panggilan Al-Faruq adalah Umar bin Khattab radhiyallohu ‘anhu. Akan tetapi Umar tetap mengakui, bahwa Abu Bakar adalah orang yang paling berani setelah Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam.

Sebaik-baik orang yang berilmu adalah yang baik adabnya dan paling peduli dengan nasib saudaranya. Meskipun, mereka terpisahkan oleh jarak yang amat jauh dan berada pada belahan bumi yang lain.

Karena ia memahami dengan baik tentang makna sabda Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam, bahwa muslim satu dengan muslim lainnya bagaikan satu tubuh.

Mulianya adab mencerminkan bagaimana kualitas ilmu seseorang

Ilmu menjadi musuh bagi sikap sombong

Sudah ma’lum diketahui, bahwa orang yang berakal adalah orang yang memiliki ilmu. Sehingga, orang yang berilmu itu sudah sewajarnya memiliki adab yang baik dan mulia. Kemudian dengan baiknya adab yang dimilikinya akan mengantarkan orangnya pada puncaknya ilmu dan keimanan.

Sebagaimana apa yang telah diraih oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallohu ‘anhu dan derajad ilmu tersebut mendapatkan sanjungan dari Alloh Ta’ala dan Rasul-Nya.

Meskipun ia pemberani, namun keberaniannya untuk membela saudaranya dan menjaga keutuhan Islam. Tidak keras hati jika diluruskan kepada Al-Haq dan tidak pula angkuh terhadap orang yang lebih jahil darinya.

Berkebalikan dengan hal itu, bahwa seseorang yang belum memiliki adab yang baik, maka ia tidak akan bisa mencapai puncaknya ilmu, iman dan keberanian. Karena ia memiliki karakter yang sulit diatur, ngeyel dan Al-Kibr (sombong).

Karakter demikian adalah karakternya iblis dan menjadi sebab dilaknatnya dia. Kemurkaan Alloh Ta’ala pada iblis disebabkan oleh sifat ngeyel pada perintah Alloh untuk sujud kepada Adam. Padahal, iblis lebih dahulu diciptakan dan lebih dahulu mengabdikan diri kepada Alloh Ta’ala sebelum diciptakannya Adam.

Al-Kibr adalah pokok dari adab yang buruk yang menjadi musuhnya ilmu dan hidayah Alloh Ta’ala.

Mizutex - Air adalah sarana untuk menghidupkan alam

Bagaimana mungkin ilmu itu akan dikecap oleh orang yang sombong, sedangkan ilmu itu hanya diraih dari lisan-lisan orang yang jujur terhadap keimanannya. Yang shiddiq terhadap Laa ilaha illalloh-nya. Yang tidak munafik dan menjual agamanya dengan kesenangan dunia. Yang senantiasa menapaki jejaknya para Nabi dan Rasul dengan baik, meskipun banyak orang yang suka mencela.

Kesombongan adalah musuhnya ilmu, laksana aliran air yang menjadi musuh bagi tempat yang tinggi.

اْلعِلْمُ حَرْبٌ لِلْفَتَى اْلمُتَعَالِى   ****   كَالسَّيْلِ حَرْبٌ لِلْمَكَانِ الْعَالِى

Ilmu itu memusuhi pemuda yang tinggi hati *** seperti aliran air yang memusuhi tempat yang tinggi.

Sikap sombong dalam khazanah Islam adalah sikap merendahkan orang lain untuk menolak kebenaran. Sehingga apabila ilmu atau dakwah itu datang dari orang yang lebih rendah darinya secara umur dan kedudukan, maka ia menolaknya. Sikap sombong juga dihiasi oleh perilaku buruk terhadap orang lain, jahat secara lisan maupun perbuatan, suka merendahkan dan berperangai kasar. Karena orang sombong biasanya menganggap orang lain tidak lebih bernilai dari dirinya.

Dalam prinsip orang yang berilmu, kesombongan akan mengakhiri perjalanan orang yang ingin terus belajar dan menuntut ilmu. Karena, kesombongan adalah porosnya kesesatan, kebodohan, kepengecutan, kekalahan dan minimnya adab.

Kesombongan juga menjadi sebab tergelincirnya seseorang dalam api neraka. Sebagaimana dedengkot kesombongan telah menjadi makhluk yang paling tersesat dan terlaknat disisi Alloh Ta’ala.

iblis laknatullohi ‘alaihi memiliki sifat suka menentang pada Syari’at Alloh dan suka mengkritisi aturan Alloh jika bertentangan dengan nafsunya.

Maka barangsiapa yang telah menyatakan lari dari ilmu dan petunjuk Al-Qur’an, baginya kawan dari syetan (iblis), yang akan mengelabuhi mereka dengan angan-angan yang semu. Sebagaimana hal itu sudah menjadi ketetapan dari masa ke masa.

إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى ۙ الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَىٰ لَهُمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang berbalik setelah mendapat petunjuk yang jelas bagi mereka (Al-Qur’an), syetan-lah yang akan mengelabuhi mereka dan memanjangkan angan-angan mereka.”

[Muhammad 25]

Mulianya adab mencerminkan bagaimana kualitas ilmu seseorang

Adab yang mulia terlahir dari bersihnya iman dan kualitas ilmu seseorang

Jika kesombongan adalah porosnya kebodohan, maka Tauhid Laa ilaha illalloh, merupakan porosnya ilmu, iman, adab dan keberanian. Tauhid ini akan melahirkan iman dan terbukanya jalan kemenangan.

Adapun indikasi iman juga tercermin dari mulianya adab.

Namun sayang sekali, hal ini belum banyak disadari oleh kaum muslimin sekarang. Bahkan oleh mereka yang banyak membahas materi tentang Kitab Tauhid itu sendiri. Tidak sedikit orang yang mengaku memiliki Tauhid yang hanif, namun adabnya masih kurang baik dan perkataannya bertentangan dengan perbuatannya.

Padahal, telah disebutkan oleh hadits dan syarh-nya, misalnya dalam Fathul Bari. Bahwa orang yang Tauhidnya baik, maka adabnya kepada sesama mukmin pun juga baik.

Karena, sikap seseorang terhadap sesamanya (orang mukmin kepada orang mukmin lainnya), mencerminkan bagaimana sikapnya kepada Rabb-nya, yaitu Alloh Ta’ala.

Oleh karena itulah, mengapa disebutkan dalam judul, mulianya adab mencerminkan kualitas ilmu seseorang. Jadi, penekanannya pada kualitas ilmunya, bukan kuantitas (banyaknya) ilmunya.

Kualitas ilmu yang baik, mencerminkan dalamnya perenungannya terhadap ilmu dan sejauhmana ilmu itu meresap ke dalam sanubarinya. Sehingga akan membuat jiwanya teguh, berani dan tidak plin-plan. Ilmu sebelum beramal dan berfikir sebelum berbicara.

Jadi, buat apa memiliki ilmu yang banyak, jika tak mampu menjaganya dengan baik (mengamalkannya, mengajarkannya dan sabar diatasnya).

Orang yang berilmu seharusnya mampu mengamalkan, mengajarkan dan bersabar diatas ilmunya.

Jika tidak demikian, ia tidaklah disebut sebagai orang yang berilmu. Karena ia telah mendapat celaan dari Alloh Ta’ala, malaikat-Nya dan oleh siapa saja yang bisa mencelanya.

Sebagaimana hal ini telah ada dalam Al-Qur’an, serta telah diungkap bagaimana hakikat para pengklaimer ilmu sejak zaman dahulu.

Punggawa mereka adalah Bal’am bin Baura (musuhnya Nabi Musa ‘alaihissalam) yang dahulunya adalah seorang ulama, namun telah menjual agamanya.

إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

“Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al-Quran), mereka itulah yang dilaknat Alloh dan dilaknat (pula) oleh mereka yang bisa melaknat”.

[Al-Baqarah 159]

Namun, bukan berarti pula kita kemudian memiliki keyakinan bahwa kalau semakin banyak ilmu yang dimiliki, maka akan semakin membuat kita terkekang. Jangan demikian. Karena ilmu adalah tanggung jawab bagi setiap orang.

Sebagaimana disadari, bahwa tujuan kita semua adalah ke akhirat, maka dengan apa kita berjalan menuju kepadanya kalau bukan dengan ilmu?

Jadi, ilmu yang mengantarkan kepada adab yang mulia dan keselamatan adalah ilmu Syar’i, dari Al-Qur’an dan Sunnah. Bukan ilmu dari produk khayalan akal manusia, bukan juga liberalisme atau sekularisme. Dimana produk-

produk tersebut yang justeru akan memunculkan pertentangan akal dan batin, serta buruknya sikap.

Mulianya adab mencerminkan bagaimana kualitas ilmu seseorang

Ilmu Syar’i kemudian ilmu yang lainnya

Setelah seseorang memahami dengan baik ilmu tentang Dien-nya, maka dengan mudah ia dapat menguasai ilmu yang lainnya. Yang akan diberikan oleh Alloh Ta’ala kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Contohnya seperti seekor lebah.

Bukankah lebah itu adalah hewan yang dalam teori manusia ia adalah makhluk yang “tidak berakal”?

Namun nyatanya, lebah dapat membangun sarang dengan arsitektur hexagonal yang sistematis. Dan dari sarang lebah tersebut juga terdapat madu yang banyak dimanfaatkan oleh manusia.

Sekarang ini, desain arsitektur hexagonal karya si lebah banyak ditiru oleh manusia.

Untuk apa?

Untuk merancang komponen besi yang paling kuat dan merancang arsitektur mekanik yang kokoh.

Dari sini kita faham, bahwa ilmu itu semata-mata bukan diperoleh dari research dan belajar tekun saja. Akan tetapi, ilmu itu datang dari Alloh Ta’ala, yang hanya dikaruniakan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Quran) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.”

[Al-Baqarah: 151]

Ketika seseorang sudah memperhatikan Dien-nya, seseorang akan mendapatkan ilmu apa saja yang bermanfaat yang belum diketahui olehnya. Sebagaimana bunyi ayat tadi.

Tidak diragukan lagi, bahwa prinsip dasar ini telah dibuktikan dan telah disaksikan oleh umat Islam sebelum kita.

Sejarah pun tidak mampu mencatat, pada masa Khilafah Abbasyiyah banyak penemuan yang diperoleh dan dimanfaatkan hingga sekarang ini. Baik di bidang teknologi, kedokteran dan yang lainnya. Hal itu diraih dengan mudah setelah mereka menegakkan Dien-Nya dan Kalimat-Nya

Meskipun, tidak pernah terdengar oleh kita suatu nobel ataupun legitimasi hak cipta untuk mereka, seperti yang marak pada saat ini.

Mengapa?

Hal ini, dikarenakan betapa banyaknya penemuan yang muncul dan mereka memperoleh itu tidak mengharapkan pamrih ataupun ridha dari manusia sedikitpun.

Yang mereka harapkan adalah Ridha Sang Rahman, yang selalu mengawasi mereka dalam kesendirian maupun dalam keramaian. Yang akan membalas sekecil apapun upaya yang dikerjakan. Yang akan memberi petunjuk kepada mereka dan memperbaiki amalan mereka semua dengan kehendak-Nya.

Mulianya adab mencerminkan bagaimana kualitas ilmu seseorang

Hanya Alloh Ta’ala yang dapat mengaruniakan ilmu kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan siapa saja yang memiliki keinginan yang jujur untuk menuju Rabb-Nya dan berjumpa dengan-Nya, niscaya dia akan mendapati jalannya.

إِنَّ هَٰذِهِ تَذْكِرَةٌ ۖ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِ سَبِيلًا وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Sungguh, (ayat-ayat) ini adalah peringatan, maka barang siapa yang menghendaki menuju Rabbnya, niscaya ia akan mendapati jalannya. Tetapi kamu tidak akan mampu (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Alloh. Sungguh, Alloh Maha Mengetahui, Mahabijaksana”.

[Al-Insan 29-30]

 Jalan ilmu tidak bisa diraih kecuali oleh siapa yang dikehendaki Alloh Ta’ala. Oleh karena, itu mohonlah petunjuk kepada-Nya dan bersyukurlah atas ilmu yang telah diperoleh dari-Nya.