Ketika para pakar meteorologi dan geofisika telah menyatakan akan adanya kemarau panjang, gempa bumi, rentetan bencana alam dan jatuhnya meteor dalam waktu dekat, maka hal itu sudah sepatutnya membuat orang-orang beriman merasa “ditegur”.

Bukankah hal ini sudah Alloh khabarkan kepada umat manusia?

Sepatutnyalah orang beriman lebih mengetahui hal ini dengan baik ketimbang para pakar tersebut.

Dan sebagaimana yang sudah ma’lum difahami oleh siapa saja yang memiliki perhatian—walaupun hanya sedikit—tentang peristiwa akhir zaman, maka mereka pasti percaya, bahwa huru-hara akhir zaman sudah sangat dekat sekali.

Hal itu juga, sebagai tanda dan khabar akan diangkatnya lagi Khalifah Rasyidah yaitu Imam Mahdi di antara dua rukun Ka’bah. Tepatnya setelah raja terakhir di Jazirah Arab tewas. Ketiga putra mahkotanya memperebutkannya, namun mereka semua binasa.

Maka kerajaan itupun Alloh Ta’ala karuniakan kepada siapa yang Dia kehendaki dari orang yang jujur dalam imannya, dan Alloh-lah sebaik-baik pemberi karunia dan hikmah.

Maka Alloh Ta’ala akan meng-ishlah Imam Mahdi sebagai pewarisnya, sebagaimana yang banyak disebut dalam Nubuwwat Rasululloh ﷺ dalam hadits-hadits akhir zaman.

Al-Mahdi sendiri sebelumnya tidaklah dikenal oleh orang-orang di zaman ini dan pada waktu itu (karena beliau bukanlah orang yang gila tenar), untuk menjadi amir sekaligus komandan bagi kaum mukminin.

Sedangkan kerajaan yang diwariskan kepadanya bukan untuk kesenangan dirinya dan koleganya, namun untuk menegakkan Dien Alloh Ta’ala. Disamping, pada waktu itu, harta tak lagi dikejar-kejar atau diperebutkan disebabkan sudah gentingnya keadaan.

Khalifah Al-Mahdi sendiri senantiasa memimpin rakyatnya dengan Kitabulloh dan menjadi Amirul Mukminin hingga turunnya Isa bin Maryam di Damascus untuk membunuh Dajjal dan segala tipu dayanya yang telah menyelimuti akal manusia dan dunia. (Baca: Nubuwat Rasululloh ﷺ tentang turunnya Isa bin Maryam di wilayah Damascus)

Semua orang yang memiliki iman tentu percaya, bahwa diangkatnya sebagai Khalifah Ar-Rasyidah, Muhammad bin Abdulloh Al-Mahdi di akhir zaman adalah tatkala musibah telah menyelimuti seluruh dunia.

Ketika segala sistem produksi atau pertahanan apapun telah lenyap dan rusak. Maka kehidupan kembali manual dan konvensional, namun bukanlah seperti zaman batu yang seperti diyakini kaum orientalis. Akan tetapi, seperti kehidupan sebelum adanya perlengkapan atau teknologi modern.

Kehidupan yang dilalui Khalifah Rasyidah ini juga bukan seperti bayangan orang yang cinta dunia, yang mereka mengira diisi oleh keadilan tanpa peperangan, kesejukan tanpa paceklik, kesuburan tanpa kemarau panjang atau melimpahnya harta kekayaan tanpa pertumpahan darah.

Justeru dalam 7 atau 9 tahun kurun kepemimpinan Khalifah Al-Mahdi tidak berhenti yang namanya ujian, cobaan dan musibah yang merata ke seluruh dunia, hingga tak ada lagi yang bisa mereka makan kecuali hanya sebatas ucapan iman.

Hingga setiap dada menyesak, bola mata menjadi merah dan kerongkongan menjadi tercekik.

Keadaan itu Alloh Ta’ala takdirkan untuk menyaring barisan kaum mukminin, hingga tidak ada lagi munafik yang mengharap secuil dunia ada dalam barisan mereka.

Diantara musibah yang memiliki cobaan yang berat adalah.

Ad-Dukhan.

Dan lebih tepatnya, ia adalah azab yang ganas. Yang tidak akan lenyap kecuali atas kehendak Alloh Ta’ala semata.

Tidak akan ada teknologi buatan manapun yang mampu menghilangkan azab itu, sedangkan semua orang menyadari itu datangnya adalah dari Rabb yang menciptakan dan yang mengatur langit dan bumi, yaitu Alloh ‘azza wa jalla.

Dia-lah, Raja di raja, ketika pada waktu itu raja atau yang merasa jadi raja tak lagi punya kuasa dan daya apa-apa. Bertolak belakang dengan klaim-klaim yang disebut-sebut oleh para pemujanya dan hamba-hambanya selama ini.

Ketika mayoritas manusia acuh tak acuh dengan janji Alloh ini, kenyataannya hal itu akan mereka saksikan dan akan mereka hadapi. Pahitnya kenyataan itu tak lagi bisa mereka teguk. Wajah-wajah mereka tunduk hina, seraya mengakui Alloh Ta’ala saja yang memiliki segala kuasa dimuka bumi ini.

Karena Dia-lah yang menjadi pengaturnya selama ini, dan bukanlah hak orang yang mengabdi pada rekayasa teknologi atau sistem yang selalu digembar-gemborkan oleh khalayak ramai sejauh ini.

Kini, ketika musibah itu sudah mereka rasakan, kesadaran akan Dienulloh pun baru mereka rasakan. Semua orang hendak mengakui kelalaian mereka dari ketundukan dan kepatuhan pada Sang pencipta semesta Alam.

Semuanya mengharap diberi kesempatan sekali lagi untuk diberi tenggang waktu. Semua orang juga hendak menyatakan iman dan taubatnya kepada Alloh Ta’ala, sesuai sangkaan mereka, akan tetapi semua itu tidak lagi berguna.

Terlambat.

Alloh Ta’ala berfirman:
“Maka tunggulah pada hari ketika langit membawa Ad-Dukhan yang menjadi nyata, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih. (Mereka berdoa), “Ya Rabb kami, lenyapkanlah azab itu dari kami. Sungguh, kami akan beriman.” [QS. Ad-Dukhan 10-12]

Ad-Dukhan itu sendiri adalah serupa namun tak terbatas pada gas, kabut, asap atau abu vulkanik yang menyesakkan dada dan merusak roda kehidupan.

Peristiwa munculnya Ad-Dukhan sendiri tidak diketahui secara pasti penyebabnya. Namun hal itu diiringi oleh jatuhnya bintang berekor, terbitnya matahari dari barat, ditenggelamkannya raja dan penguasa dengan gelar As-Sufyani di wilayah Arab, serta diangkatnya Al-Mahdi sebagai penerus kekhilafahan Khalifah Rasululloh ﷺ Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallohu ‘anhu.

Al-Mahdi juga sekaligus menjadi amir yang menjadi komando dalam perang akhir zaman untuk mengalahkan Romawi dan memerangi Dajjal.

Para ulama berpendapat bahwa antara satu peristiwa dan yang lainnya tersebut mungkin saling mendahului dan jaraknya tidak akan lama.

Dari Husein bin Ali bin Abu Thalib Radhiyallohu ‘anhu, dia berkata, “Apabila kalian melihat tanda di langit, api besar dari arah timur, muncul selama beberapa malam, maka pada saat itu orang-orang menjadi lapang, karena itu adalah—tanda—kedatangan Al-Mahdi.” [Uqad Ad-Durar, 106]

Diriwayatkan pula dari Shahabat yang lain, “Dan bintang yang dilemparkan dengannya menjadi panah yang menukik dari langit, diiringi dengan suara yang keras hingga jatuh di wilayah timur, malapetaka besar menimpa manusia karenanya.” [Nu’aim: Al-Fitan, 160, muhaqiq kitab ini menyebutkan bahwa jalur periwayatannya hasan]

Dari Abu Hurairah Radhiyallohu ‘anhu, dia bercerita bahwa Rasululloh ﷺ bersabda:

“Seseorang yang dipanggil Sufyani akan keluar dari dalam Damaskus. Kebanyakan dari pengikutnya adalah dari kabilah Kalb (anjing). Ia akan membunuh sehingga perut wanita dibelah dan anak-anak dibunuh. Sehingga kabilah Qais bersatu untuk melawannya, dan ia pun membantai mereka sampai kepada orang yang paling lemah dari mereka.

Lantas seseorang dari Ahlul Baitku keluar menuju Harrah. Kabarnya didengar oleh Sufyani, sehingga ia memberangkatkan satu pasukan dari pasukannya. Pasukan ini dapat dikalahkan. Maka Sufyani sendiri berangkat bersama pasukannya.

Tatkala mereka sampai di Baidha’ (sebuah wilayah antara Makkah dan Madinah, red) mereka pun ditelan bumi.
Tidak ada seorangpun yang selamat kecuali orang yang mengabarkan kejadian itu.” [HR. Hakim, beliau berkata isnadnya shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim]

Amirul Mukminin atau pemimpin bagi orang-orang beriman yang berjaya di akhir zaman adalah dari nasab Rasululloh ﷺ.

Karena pada hakikatnya kepemimpinan bagi kaum muslimin yang sah adalah wajib dari suku Quraisy sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syafi’i, “Belajarlah dari Qurasiy dan jangan mengajari mereka (dalam penerintahan, red).”

Hal ini tidak dianggap baik itu keadaan dunia dalam keadaan krisis kepemimpinan atau sulitnya keadaan, selama masih ada 2 orang Qurasiy di muka bumi ini, maka wajib untuk mengangkatnya sebagai amir. Hal ini bertolak belakang dengan anggapan orang yang mengklaim berilmu, namun menyebarkan kedustaan dan menyembunyikan Al-Haq untuk tujuan dunia.

Salah seorang Shahabat Rasululloh pernah menentang dengan tegas wacana diangkatnya amir dari selain Quraisy.

Dalam Shahih Bukhari pada Bab: Sikap terpuji kaum Quraisy, disebutkan:

dari Az Zuhriy berkata; Muhammad bin Jubair bin Muth’im pernah bercerita kepadanya bahwa ada berita yang sampai kepada Mu’awiyah yang saat itu dia sedang mempunyai urusan dengan orang Quraisy. Bahwa ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash menceritakan bahwa akan ada raja (pengganti Khalifah) dari kalangan suku Qahthan (di Yaman).

Mu’awiyah kemudian marah lalu berdiri kemudian memuji Alloh Ta’ala dan segala pengagungan yang memang hanya patut bagi-Nya, kemudian berpidato;

“Hadirin yang dimuliakan. Sungguh telah sampai kepadaku orang-orang dari kalian yang menyampaikan pembicaraan yang tidak ada dalam Kitab Alloh dan juga bukan dinukil dari sabda Rasulullah ﷺ. Mereka itulah orang-orang bodoh dari kalian. Oleh karena itu kalian harus waspada terhadap angan-angan yang menyesatkan para pelakunya. Sungguh aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

“…Sesungguhnya urusan (Khilafah) ini berada pada suku Quraisy dan tidak ada seorangpun yang menentang mereka melainkan Alloh Ta’ala pasti akan membenamkan wajahnya ke tanah, SELAMA mereka (Quraisy) menegakkan ad-dien.”

Taubat senantiasa diterima sebelum matahari terbit dari barat. Kalau bukan sekarang, lalu kapan lagi?