WhatsApp-Button

Mizutex.com – Tak terasa, bulan suci Ramadhan akan menyapa kita kembali. Sudahkah kita mempersiapkan segalanya dengan baik? Di bulan Ramadhan, setiap kebaikan yang kita lakukan lebih berkesan dan pahalanya dilipat-gandakan. Ramadhan kali ini insya Alloh kita lebih baik!

Agar Ramdhan kali ini lebih bermakna dan bermanfaat, ada banyak hal yang harus dipersiapkan sejak dini. Bulan Ramadhan adalah bulan yang setiap kebaikan akan dilipat gandakan hingga 700 kali lipat. Para Shahabat Rasululloh Radhiyallohu ‘anhum, sebagai orang Mukmin dan Mujahid, bagi mereka bulan Ramadhan adalah bulan kemuliaan dan kemenangan.

Ramadhan adalah indikasi mutu diri

Ramadhan adalah bulan indikator bagi diri sendiri.  Ketika syetan dibelenggu dan manusia diuji dengan rasa lapar dan dahaga, seyogyanya mereka lebih mampu menjaga hawa nafsu mereka. Siapa saja yang riang gembira dan bersuka cita dengan datangnya bulan Ramadhan, maka hal itu merupakan tanda keimanan dan hidupnya hati.

Dengan catatan, bahwa kegembiraan mereka adalah dikarenakan suasana yang kondusif untuk menambah dan meningkatkan kualitas ibadah kepada Alloh Ta’ala di bulan Ramadhan nanti.

Adapun bagi mereka yang merasa terbelenggu dan terusik dengan datangnya bulan Ramadhan, hal tersebut bisa diindikasikan bahwa syetan telah menyatu dalam aliran darahnya, wal ‘iyyadzu billah.

Oleh karena itu, barangsiapa yang berlaku baik di bulan Ramadhan, insya Alloh akan baik pula hari-hari mereka di sepanjang tahun. Adapun bagi mereka yang tidak peduli dengan adanya bulan keberkahan dan bulan ampunan ini, seraya menambah kemaksiatan mereka, maka insya Alloh kualitas diri mereka pun akan lebih buas ketika diluar bulan Ramadhan. Wana’udzu billah.

Laksana anak tangga untuk menuju lebih baik

Setiap mukmin tentu menghendaki dirinya senantiasa lebih baik daripada hari, bulan atau tahun sebelumnya. Prinsipnya adalah, “jika kualitas diri pada hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi.”

Ramadhan adalah laksana anak tangga untuk menuju lebih baik. Sedangkan Alloh Mahamengetahui sejauhmana upaya kita agar bisa mencapai kualitas yang lebih baik daripada hari sebelumnya.

Ada banyak cara yang bisa diupayakan dan prinsip yang paling sederhana adalah seperti pelajaran kita diwaktu sekolah dasar, “tambahkan dan kurangi”.

Tambahkan: Pada bulan Ramadhan kali ini kita bisa mencatat dengan baik dan membuat target yang jelas. Bahwa pada bulan Ramadhan ini, kita akan memulai menambahkan 1 (satu) amalan ibadah kebaikan. Yang insya Alloh, kita bertekat untuk tetap kita kerjakan sepanjang tahun, hingga kita berjumpa kembali di Ramadhan berikutnya.

Sebagai contoh amalan ibadah yang bisa dilakukan adalah:

  • Tilawah Al-Qur’an minimal 5-10 ayat
  • Menghafal Al-Qur’an setengah halaman dalam 7 hari
  • Menghafal hadits dalam Shahih Bukhari
  • Menghafal matan kitab Tauhid
  • Membiasakan diri untuk infaq dan shadaqah
  • Membiasakan diri untuk menebarkan ucapan salam kepada kaum muslimin, dll.

Kurangi: Pada bulan Ramadhan ini, diupayakan ada 1 (satu) kejelekan pada diri kita yang harus kita buang jauh-jauh. Cari, catat, dan hilangkan.

Kita seyogyanya senantiasa melakukan muhasabah diri dan membuka mata terhadap kritik orang lain terhadap diri kita. Hal itu adalah cara yang baik agar kita dapat mengetahui kekurangan pada diri sendiri, serta tidak sibuk membicarakan keburukan yang ada pada orang lain.

Sebagai contoh hal-hal negatif yang seharusnya bisa dihilangkan adalah:

  • Mengurangi gossip atau memperbincangkan orang lain.

Hal ini juga tidak terkecuali banyak bicara atau suka ngerumpi. Ingatlah dengan baik, tentang hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dari Abu Hurairah Radhiyallohu ‘anhu, Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Cukuplah seseorang (dianggap) berdusta jika ia menceritakan semua yang ia dengar.” [Shahiih Muslim 1/10]

  • Menghilangkan kebiasaan melihat hal-hal yang tidak halal bagi kedua matanya.

Rasululloh Shallallohu ‘alihi wasallam bersabda, “Pandangan merupakan anak panah beracun dari anak-anak panah iblis. Maka barang siapa yang menahan pandangannya dari kecantikan seorang wanita karena Allah, niscaya Allah akan mewariskan rasa manis dalam hatinya sampai hari pertemuan dengan-Nya.” [HR Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 7/313]

Perlu diingat bahwa perintah untuk menjaga pandangan tidak hanya berlaku bagi kaum pria, namun juga kepada wanita. Karena perintah ini bersifat umum, adapun pandangan wanita terhadap kaum pria juga dapat mempengaruhi gejolak hati bagi wanita sebagaimana yang dialami oleh kaum pria.

Alloh Ta’ala berfirman, Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya” [QS. An-Nur: 30-31].

  • Menghilangkan sifat benci kepada hukum Syar’i yang ada di dalam Al-Qur’an.

Hal ini merupakan perkara terbesar dan terberat bagi setiap insan. Sebagai makhluk yang hidup dan mencari rizki di bumi Alloh, tidak halal terbetik satu kebencian dan penolakan sedikitpun terhadap Syari’at dalam Al-Qur’an.

Alloh ta’ala berfirman, “Dalam hati mereka ada penyakit (menolak kenabian Muhammad dan Syari’atnya), lalu ditambah Alloh penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka menolak (ayat Alloh). [QS. Al-Baqarah: 10]

Alloh ta’ala berfirman, “Tidak demi Rabbmu (Alloh), mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” [QS. An-Nisaa’: 65]

Perlu ditekankan kembali, bahwa tidak ada iman pada diri seseorang sebelum mereka legowo, tunduk dan patuh terhadap isi Kitabulloh, yaitu Al-Qur’an yang mulia. Sebagaimana dalil-dalil yang banyak disebutkan di dalam Al-Qur’an.

Mempersiapkan agenda untuk peningkatan ibadah

Untuk bisa memanfaatkan setiap momen di bulan Ramadhan lebih optimal, sebagai seorang mukmin sejati, sepantasnya untuk mempersiapkan diri sejak dini (2-3 bulan sebelum Ramadhan).

Setiap orang tentu memiliki target sendiri-sendiri dan menyesuaikan kemampuan dan kesanggupannya. Jangan lupa luruskan niat dan bulatkan tekat. Jika ikhlash, insya Alloh akan diberi balasan dan petunjuk kepada jalan yang benar.

“Maka barangsiapa yang memiliki tekat niscaya ia akan menjumpai jalan menuju Rabb-nya.” (QS. Al-Muzammil: 19)

Diantara hal-hal yang dapat dipertimbangkan, agar Ramadhan kali ini, insya Alloh kita lebih baik, ada beberapa poin yang paling krusial.

  • Mempersiapkan bekal

Tidak bisa dipungkiri, godaan untuk berbelanja di bulan Ramadhan semakin nyata ketika mendekati penghujungnya. Agar agenda special di bulan Ramadhan tidak terbengkalai, alangkah baiknya untuk menyisihkan bekal jauh hari menjelang bulan Ramadhan.

Sangat baik sekali—jika memang memungkinkan—untuk mengagendakan liburan di bulan Ramadhan. Namun, sekali lagi, liburan ini bukan untuk shopping atau jalan-jalan sepuasnya. Dan justeru lebih mengarah pada peningkatan kuantitas dan kualitas ibadah.

Sebagai bulan mulia yang setiap amalannya dilipat gandakan, sangat disayangkan jika waktu-waktunya dihabiskan hanya untuk focus kepada kehidupan dunia. Ini bukanlah bulan untuk memperkaya diri dan takut rugi, apalagi bersu’uzhan kepada Alloh dengan ucapan, “Kalau tidak kerja, anak istri makan apa…?”

Bisa dibayangkan, selama 11 bulan kita mengejar ambisi-ambisi duniawi kita, namun kita merasa berat untuk mendedikasikan diri kita hanya 1 bulan—itupun kalau bisa genap—untuk mengejar ketertinggalan akhirat kita???

Alloh Ta’ala berfirman, “Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” [QS. Al-Mukmin: 39]

Sangat disayangkan sekali, betapa banyak orang yang sangat bersemangat ketika mengejar kekayaan dunyawiyah. Namun, mereka akan menjadi loyo dan lesu ketika diajak untuk menimba ilmu Syar’i yang menjadi bekal bagi dirinya menapaki kehidupan di dunia.

Sehingga, dengan ilmu tersebut ia akan selamat dari fitnah dunia dan akan mendapatkan keselamatan di negeri akhirat.

Tidak ada jalan keselamatan yang kini banyak ditinggalkan orang, melainkan ia adalah Tauhid yang hanif. Dan tidak ada jalan kesesatan dan kejahiliyahan yang kini banyak diikuti orang, melainkan ia adalah kesyirikan yang nyata dan tersembunyi.

Sedangkan Tauhid akan membawa pelakunya pada keselamatan akhirat selama-lamanya dan syirik (dengan berbagai macam, jenis dan metodenya) akan membawa pelakunya binasa selama-lamanya di akhirat. Wal ‘iyyadzu billah.

Lalu, apa makna dunia yang selama ini dikejar dan dibangun selama puluhan tahun jika akhiratnya hancur?

Menjaga kemurnian Tauhid

Menjaga kemurnian Tauhid di zaman ini, merupakan perkara yang amat sulit. Ketika idealisme dipertaruhkan, banyak sekali yang gugur dan meninggalkan prinsip sejatinya sebagai muslim, mukmin dan muwahhid.

Aduhai, alangkah bahagianya orang yang bertauhid dan ihsan, sebagaimana yang digambarkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahulloh. Yaitu ketika seorang hamba, dimanapun ia berada dan bagaimana pun keadannya, selama Tauhid kepada Alloh terpatri di dalam dadanya, maka semua itu adalah suatu kemenangan.

Sedangkan hakikat kekalahan itu adalah ada di dalam hati dan ketika ia meninggalkan Tauhid yang ia anut sejak ia dilahirkan dalam keadaan fithrah.

Tauhid adalah inti dari Risalah para Nabi dan Rasul

Karena alasan Tauhid inilah, Alloh mengutus para Nabi dan Rasul kepada umat manusia. Dan Rasul pertama yang membawa kewajiban untuk mengajarkan Tauhid kepada umat manusia adalah Nabi Nuh ‘Alaihissalam.

Alloh Ta’ala berfirman, “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Alloh (saja), dan jauhilah Thaghut itu’, kemudian di antara umat (manusia) itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Alloh (bertauhid) dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya…” [QS. An-Nahl: 36]

Alloh Ta’ala berfirman, “Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu (Muhammad) melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada ilah (yang hak) melainkan Aku (Alloh), maka sembahlah olehmu sekalian Aku (Alloh) saja’.” [QS. Al-Anbiya: 25]

Bahwasanya Rasul yang diutus pertama kali adalah Nabi Nuh, kemudian Ibrahim, Musa dan ‘Isa ‘Alaihimus Salam. Serta yang terakhir adalah Nabi dan Rasul kita Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam. Demikianlah nama-nama Rasul yang Alloh sebutkan di dalam Al-Qur’an. Wallohu a’lam.

Sebagaimana dalam firman Alloh Ta’ala, “Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama (Tauhid dan Syari’atnya, red) dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya (menelantarkannya/meninggalkannya, red). Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru itu mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu (Islam) orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” [Asy-Syu’ara: 13]

Ikhwah, sangat jelas sekali bahwa Tauhid adalah inti dari apa yang disampaikan oleh para Rasul dan dengan Tauhid itu berbagai ujian akan mereka hadapi. Untuk memisahkan yang baik dari yang buruk. Serta Tauhid yang menjadi inti Risalah para Rasul itu adalah dakwah yang sangat berat dan dibenci oleh orang-orang musyrik.

Dan bahwasanya, dikarenakan idealisme para Rasul dan shahabat mereka itulah, mereka ada yang diusir lalu pergi dengan sebuah perahu (Nabi Nuh). Sementara Nabi Ibrahim dibakar. Adapaun Nabi Musa dikejar oleh Fir’aun hingga ke laut merah, sedangkan bibinya Asiyah dibunuh oleh Fir’aun.

Nabi Isa ‘Alaihissalam dan Rasululloh Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam hendak dibunuh oleh orang-orang kafir yang tidak suka dengan Risalah yang dibawanya.

Betapa berharganya Tauhid dan betapa besar pahala mereka di akhirat.

Diciptakannya jin dan manusia agar mau mentauhidkan Alloh

Alloh Ta’ala berfirman, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” [QS. Adz-Dzariyat: 56]

Para ulama menjelaskan bahwa “mengabdi” dalah ayat ini maksudnya adalah “Tauhid”.

Imam Ibnu Katsir berbicara tentang ayat ini cukup jelas, bahwa:

“Aku (Alloh) ciptakan mereka itu dengan tujuan untuk menyuruh mereka mengabdi kepada-Ku, bukan karena Aku membutuhkan mereka. Mengenai firman Alloh Ta’ala (“…agar mengabdi kepada-Ku”), Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallohu ‘anhu: Maksudnya, melainkan supaya mereka mau tunduk beribadah kepada-Ku, baik secara sukarela mupun terpaksa. Dan itu pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir. Sedangkan Ibnu Juraij menyebutkan: Yakni supaya mereka mengenal-Ku.

Dan masih mengenai firman-Nya, (“…agar mengabdi kepada-Ku”), Ar-Rabi’ bin Anas mengatakan: Diantara bentuk ibadah itu ada yang bermanfaat (baik) dan ada pula yang tidak bermanfaat (buruk/dosa). Alloh Ta’ala berfirman, ‘Dan sesungguhnya jika engkau tanya kepada mereka: Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Tentu mereka akan menjawab: Alloh!’ [QS. Luqman: 25]

Adapun Ibadah mereka yang disertai dengan kesyirikan itu, sama sekali tidak mendatangkan manfaat bagi mereka. [Selesai disini perkataan Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya]

Kesyirikan adalah jalan kehancuran dunia dan akhirat

Ada banyak sekali cabang-cabang amal kesyirikan yang sudah sangat jelas dalil dan larangannya baik dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi Shallallohu ‘alaihi wasallam. Betapa banyak yang melalaikannya dan tidak terdorong sama sekali untuk selamat dari amal perbuatan syirik dan berbagai metodenya.

Dikarenakan kelalaian mereka itulah, ibadah mereka tidak terangkat ke sisi Alloh Ta’ala dan mereka akan mendapatkan hisab yang sangat berat di yaumul Akhirah.

Oleh karena itu, marilah kita memulai untuk memperdalam ilmu kita tentang siapa Rabb kita yang haq, bagaimana Dien Islam kita ini dan seperti apakah jalan yang ditempuh oleh baginda kita yang mulia, Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam.

Apakah Nabi kita mengajarkan kepada kita untuk tamak kepada dunia, ataukah selalu menengok pada seberapa baik bekal kita menuju akhirat?

Muhasabah, mode-on.

Kebid’ahan dan kesyirikan menjelang bulan Ramadhan

Sayang sekali, dengan alasan adat, seni dan budaya, menjelang bulan suci Ramdhan justeru semakin menjamur ritul-ritual yang mengarah kepada bid’ah dan mungkin akan menggelincirkan pada kesyirikan.

Untuk di daerah Jawa Tengah, umumnya dikenal dengan istilah “padusan” atau mandi di kolam yang menjadi sumber mata air.

Tidak cuma itu saja tentunya, akan tetapi masih banyak sekali yang tidak bisa disebutkan pada kesempatan yang singkat ini. Pada hakikatnya, semua itu hanyalah berlandaskan kesenangan, perkiraan dan tidak ada hujjah yang haq dari Kitabulloh, dan tidak ada hujjah yang jelas bahwasanya itu adalah perintah Alloh dan Rasul-Nya Muhammad Shallallohu ‘alaihi wasallam.

Padahal, kaum muslimin memiliki kaidah yang baku, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi kita dalam Shahih Muslim, “Barangsiapa beramal, dan tidak ada dari kami (Alloh dan Rasul-Nya) perintahnya, maka amalan itu tertolak.”

Dan sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir diatas, barangkali itu adalah amalan yang tidak bermanfaat atau malah menimbulkan dosa.

Ramadhan kali ini, insya Alloh kita lebih baik

Bahwasanya Rasululloh telah wafat wahyu Alloh telah putus, tidak ada kebaikan sekecil apapun yang dianjurkan kepada kaum muslimin, melainkan pasti Alloh dan Rasul-Nya telah menyampaikannya.

Secara jelas dan gamblang.

Apakah kita akan menurut pada Dien Islam yang hanif ini, ataukah kita akan membuat Islam menuruti apa keinginan kita?

Tentu kita sebagai umat manusia, makhluk Alloh ya ikhwah… yang seharusnya tunduk kepada-Nya meskipun dalam keadaan “terpaksa”.

Jika kita bisa ikhlash, masya Alloh, tiada kebaikan melainkan Alloh-lah yang lebih mengetahuinya.

Oleh karena itu ya ikhwah, marilah kita belajar untuk menundukkan egoisme kita, menundukkan akal kita dan menundukkan nafsu kita untuk tunduk kepada Alloh seutuhnya dan sehakikinya. Kemudian kita ridha dan tidak ada rasa keberatan sedikitpun di dalam hati kita atas segala perkara dan hukum yang Alloh tetapkan. Karena yang demikian itu adalah indikasi keimanan yang hakiki.

Ramadhan kali ini, insya Alloh kita lebih baik. Aamiin… aamiin… ya robbal ‘alamiin.