Mizutex.com — Peristiwa yang tidak pernah terduga dan terjadi pada era milenial saat ini adalah munculnya virus Corona atau Covid-19. Keberadaan virus Conona ini telah merubah pola hidup, situasi, aturan dan lain sebagainya. Salah satunya adalah penerapan Social Distancing atau jaga jarak antara satu orang dengan orang yang lainya. Taukah anda, bahwa Social Distancing itu bagi muslimah bukanlah hal yang baru, khususnya bagi kalangan ummahat atau para akhwat. Karena mereka telah menyadari sebelumnya bahwa hal ini merupakan salah satu kewajiban yang Syar’i.

Namun, pada hari ini, kegiatan Social Distancing tidak lagi terkhusus bagi kaum muslimah, namun hampir diterapkan oleh semua orang. Banyak yang kaget, merasa jenuh dan serba susah ketika Social Distancing harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di tempat-tempat umum. Akan tetapi, karena motivasinya adalah untuk menjaga kesehatan, banyak orang yang patuh terhadap aturan ini.

Bagi seorang muslimah, tentunya Social Distancing bukanlah perkara yang harus dipersoalkan, karena sedari awal mereka sudah menyadari pentingnya Social Distancing bagi diri mereka. Jauh-jauh hari, sebelum Corona ada.

Tanpa disuruh oleh seseorang pun, seorang muslimah akan tetap menerapkan hal ini pada dirinya. Karena, itu adalah perintah Allah ﷻ dan ini adalah motivasinya yang paling agung yang membuatnya terus istiqamah, walaupun ketika Corona sudah tidak ada lagi. Insya Allah.

Social Distancing bagi seorang muslim dan muslimah bisa bernilai ibadah

Sebagai seorang muslim atau muslimah, memang sudah seharusnya mengamalkan Social Distancing, ketika bertemu dengan lawan jenisnya. Mereka berkenan mengamalkan hal tersebut dilandasi oleh ilmu dan perintah yang datang dari Nabi ﷺ. Sebagaimana yang sudah dicatat dalam kitab-kitab hadits Nabi ﷺ.

Ketika wabah Corona (Covid-19) muncul dan orang-orang mengharuskan untuk melakukan Social Distancing, maka saya sempat bergumam di dalam hati…

Dulu, yang namanya Social Distancing itu dianggap sesuatu yang aneh. Bahkan, sempat ada kesan yang seakan sudah beredar di lingkungan secara umum, sekolah atau kampus, yang secara tidak lugas menganggap orang yang melakukan Social Distancing antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram dianggap orang yang sok suci.

Padahal, setau saya, orang-orang yang dulu menerapkan Social Distancing sama sekali tidak ada maksud menganggap diri sok suci. Justeru sebaliknya, Social Distancing yang diterapkan oleh kalangan ikhwan dan akhwat kala itu pada hakikatnya bertujuan untuk menjaga kesucian jiwa mereka khususnya dan kaum muslimin secara umum.

Supaya apa?

Supaya hati mereka bersih dan tidak terdorong untuk melampaui batas dalam pergaulan atau terjerumus dalam kemaksiatan yang buruk.

Penerapan Social Distancing dulu dan sekarang

Ada perbedaan yang cukup mencolok antara penerapan Social Distancing dulu dan sekarang. Yaitu, pada teknis penerapannya, Social Distancing pada hari ini tidak membedakan antara sesama jenis atau lawan jenis.

Pada intinya Social Distancing yang diterapkan pada hari ini adalah untuk mengatur jarak dengan siapapun. Yang ia kenal maupun yang tidak ia kenal. Selama tidak diketahui bagaimana status kesehatannya, apakah positif Corona atau tidak, apakah pernah berinteraksi dengan pasien Corona atau tidak, dan apakah pernah berinteraksi dengan orang-orang yang dicurigai pernah bertemu dengan pasien Corona ataukah tidak.

Namun demikian, penerapan Social Distancing hari ini biasanya tidak berlaku jika sesama anggota keluarga atau kerabat dekat yang diketahui secara pasti status kesehatannya. Motivasi utama Social Distancing pada hari ini adalah untuk mencegah penyebaran virus Corona (Covid-19)

Sedangkan penerapan Social Distancing yang dilakukan oleh kalangan ikhwan dan akhwat dulu dan sekarang adalah untuk mengatur jarak terhadap lawan jenis yang bukan mahram. Adapun motivasi mereka melakukan hal ini adalah untuk menta’ati perintah Allah ﷻ.

Oleh karena itu, Social Distancing itu sebenarnya sudah ada di dalam Islam sebelum orang-orang pada hari ini mengamalkannya. Ketika dulu kalangan ikhwan maupun akhwat megamalkan Social Distancing, kelihatannya terkesan aneh, namun tidak bagi mereka yang faham betul keharusan melakukan perintah ini.

Mereka menyadari, bahwa perintah untuk mengatur jarak dengan lawan jenis adalah untuk menyelamatkan jiwa-jiwa mereka dari noda-noda maksiat atau untuk menghindari godaan syaithan yang terkutuk.

Pada hari ini, khususnya setelah ada Corona, orang-orang ramai-ramai melakukan Social Distancing. Bahkan, kini diterapkan pula secara wajib di tempat-tempat yang dahulu tidak pernah peduli dengan Social Distancing. Penerapan ini pun meluas di berbagai tempat, misalnya di pasar, mall, minimarket, tempat antrian, rumah sakit, pusat keramaian publik, kampus, sekolahan, kantor, di bandara, di dalam pesawat dan tempat-tempat lainnya.

Ramai-ramai atur jarak atau Social Distancing ketika ada Corona (Covid-19)

Setelah hampir 1 (satu) tahun Corona mewabah, Social Distancing masih terus digalakkan. Hari ini, pada saat tulisan ini dibuat tanggal 6 Rabi’ul Awwal 1442 Hijrah (23/10/2020) penerapan Social Distancing masih berlaku.

Setiap kursi di ruang tunggu di manapun berada, baik di rumah sakit, stasiun, bandara, di dalam pesawat atau pada tempat-tempat keramaian lainnya, masih terpampang tanda silang. Artinya, setiap orang diwajibkan untuk menjaga jarak aman agar tidak mudah tertular virus Corona.

Biasanya, 1 baris kursi di ruang tunggu bisa duduki untuk 4 orang, kini hanya boleh 2 orang. Alasannya, untuk menerapkan Social Distancing agar penyebaran virus Corona bisa diminimalisir.

Memang, penerapan Social Distancing pada hari ini merupakan suatu protokol kesehatan yang tidak membedakan antara sesama lelaki atau wanita dan tidak terbatas pada antara lelaki dan sesama wanita.

Namun, ada hikmah lain dengan adanya penerapan Social Distancing yang telah diterapkan di banyak tempat saat ini. Yaitu, kaum muslimah lebih merasa “aman” dan leluasa menerapkan aturan jaga jarak, sebagaimana hal ini sudah mereka terapkan sejak dulu.

Seakan-akan, kini mereka merasa “banyak temannya” untuk melakukan Social Distancing. Pasalnya, jika dulu menerapkan Social Distancing, seakan merasa “sendirian”, khususnya ketika harus menyesuaikan jarak di tempat-tempat keramaian agar tidak bersenggolan dan berdekat-dekatan dengan lawan jenis.

Bagi muslimah yang sudah terbiasa melakukan Social Distancing, tentu mereka tidak akan merasa kaget bertemu dengan aturan ini dan situasi seperti sekarang ini.

Bersamaan dengan itu pula, ketika mereka mengunjungi tempat-tempat yang ramai, maka tidak lagi merasa khawatir seperti dulu. Misalnya ketika harus berbelanja sayur, berdiri di tempat antrian, pergi ke rumah sakit ataupun klinik. Mereka pun kini tidak lagi khawatir atau takut akan berjumpa dengan kerumunan orang yang banyak atau harus berjejal-jejalan atau bersenggolan dengan lelaki lain yang bukan mahramnya.

Seandainya orang-orang mau merenungkan, rangkaian peristiwa di akhir zaman ini memang mengandung banyak pelajaran penting yang datang dari Allah ﷻ.

Termasuk melalui wabah Corona ini.

Allah ﷻ telah memberikan pembelajaran yang sangat berharga untuk yang ke sekian kalinya kepada umat manusia.

Bahwa, kalau Allah sudah berkehendak, niscaya Dia akan mendatangkan suatu peristiwa yang pasti. Sehingga, mau tidak mau, terpaksa atau tidak terpaksa, manusia akan nurut dengan hukum dan takdir Allah ﷻ. Khususnya dalam hal Social Distancing.

Ketika dulu banyak yang anti-pati, maka sekarang mau tak mau harus dita’ati, kecuali jika sudah tidak peduli dengan kesehatan diri.

Oleh karena itu, sudah seharusnya seluruh kaum muslimin menyadari bahwa Social Distancing tidak perlu menunggu Corona datang ataupun pergi. Jaga jarak dengan lawan jenis semestinya mereka lakukan kapan pun, dimanapun.

Pembelajaran lainnya yang Allah berikan kepada umat manusia hari ini adalah berkenaan dengan masker…

Pada banyak tempat sekarang ini, yang namanya memakai masker adalah wajib. Kalau tidak mau pakai masker, malah bisa jadi akan kena denda.

Masih ingat dengan wacana larangan cadar? 

Nah… lagi-lagi Allah ﷻ telah memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi seluruh umat manusia. Dulu sempat cadar dipermasalahkan padahal tidak ada kaitannya dengan interaksi sosial. Hingga akhirnya, badai Corona pun datang dan aturan pun berubah drastis. Sampai-sampai, ada orang tua yang berkata pada hari ini, “Dulu… cadar dilarang, sekarang semua orang disuruh pakai cadar…”

Allah ﷻ berfirman:

“Sesungguhnya urusan-Nya apa bila Dia menghendaki sesuatu terjadi, maka Dia akan berkata kepadanya, ‘Jadilah!’, maka terjadilah ia.” [Yasin: 82]

Jika demikian, sebagai manusia yang memiliki intelektualitas, kecerdasan, IQ yang tinggi, yang selalu kritis menilai sesuatu, yang Allah ﷻ sanjung ia sebagai makhluk terbaik, maka sudah seharusnya manusia itu mampu menggunakan nalurinya dan akalnya yang sehat untuk berfikir; mengapa Allah memberikan pelajaran seperti ini? Apakah ini peringatan ataukah hukuman dari Allah? 

Pada hari ini ya ikhwan wa akhwat… tidak ada yang mempermasalahkan jika ada wanita di tempat umum ataupun di dalam kantor pelayanan umum yang menggunakan penutup muka, penutup wajah, masker  ataupun cadar.

Bahkan, jika ada yang tidak menggunakan penutup wajah maka akan mendapatkan teguran dan diminta untuk menutup wajahnya. Sampai-sampai kita temui pada pesan singkat di ponsel kita, banyak sekali anjuran untuk memakai penutup wajah jika pergi keluar rumah.

Tidak hanya itu, kita juga diminta ketika bertemu dengan orang yang tidak menggunakan penutup wajah atau masker, maka jangan segan untuk menegurnya dan meminta untuk menggunakan masker. Jika mereka tidak memiliki masker, kita juga diminta untuk memberikan masker kepada orang yang tidak memakai masker.

Demikianlah situasi pada hari ini berbolak-balik dan hal ini adalah peristiwa yang tidak pernah kita fikirkan sebelumnya.

Ketika dulu banyak yang anti-pati, maka sekarang mau tak mau harus dita’ati, kecuali jika sudah tidak peduli dengan kesehatan diri.

Alhamdulillah, pada hari ini, dimana-mana ketika ada akhwat yang sudah memakai niqab atau cadar, maka tidak ada lagi yang menegurnya karena tidak pakai masker.

Seakan-akan, Allah ﷻ ingin menunjukkan kepada kita tanda-tanda kebesaran-Nya dengan adanya keharusan memakai penutup wajah dan mengatur jarak antara satu dengan yang lainnya.

Ketika manusia enggan untuk menta’ati perintah Agama-Nya, maka Dia berkuasa untuk mendatangkan situasi yang mengharuskan manusia untuk ta’at pada perintah Agama-Nya. Ketika ada yang berupaya untuk menentang aturan-Nya, maka justeru Allah balik keadaan mereka sehingga mau tidak mau akan menta’ati-Nya.

Saat ini, banyak sekali wanita yang biasanya tidak menggunakan cadar, pada akhirnya pun menggunakan cadar. Seakan-akan, mereka menganggap lebih nyaman memakai cadar daripada masker. Betul?

Saat ini, banyak wanita yang biasanya tidak mau Social Distancing dengan lawan jenis, pada akhirnya pun harus mau Social Distancing dengan lawan jenis. Seakan-akan, mereka menganggap lebih bisa menjaga diri melakukan Social Distancing daripada harus berbaur dengan lelaki lain yang mereka temui di tempat-tempat umum. Betul?

Pada akhrinya, semua orang bisa menerapkan hukum Allah ﷻ pada dirinya, padahal sebelumnya mereka banyak mengemukakan alasan untuk menolaknya.

Pada intinya, kalau manusia sudah termotivasi untuk melakukan sesuatu, pastilah mereka mampu untuk melakukannya. Persoalannya sebenarnya pada hatinya dan dorongan yang ada di dalam hatinya, apakah mau ta’at ataukah tidak mau ta’at. Betul?

Bagi muslimah, Social Distancing adalah kewajiban meskipun tidak ada Corona (Covid-19)

Sebagai tadzkirah bagi siapa saja dan bagi diri sendiri, bahwa Social Distancing itu pada dasarnya bisa bernilai pahala jika dilandasi sebagai ibadah dan berangkat dari ketaatan kepada Allah ﷻ dengan disertai ilmu.

Pertama, apa tujuan Social Distancing dalam Islam?

Tujuan dari Social Distancing atau jaga jarak dalam Islam sebenarnya adalah agar kaum lelaki dan wanita yang bukan mahram tidak saling bersentuhan.

Telah dikenal dan diketahui dengan baik dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 226 yang menyebutkan tentang dalil berkenaan larangan bersentuhan.

Di dalam hadits marfu’ riwayat Ar-Ruyani dalam Musnadnya (227/2), berkata, “Nashr bin ‘Ali menceritakan kepada kami, dari ayahnya berkata, Syaddad bin Sa’id menceritakan kepada kami, dari Abul ‘Ala berkata: Ma’qal bin Yasar menceritakan kepadaku secara marfu’.”

لأَنْ يُطْعِنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطِ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمُسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ   

“Seseorang ditusuk kepalanya dengan jarum besi lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”

Dikatakan pula dalam kitab tersebut, bahwa sanad hadits ini jayyid (bagus) dan dikatakan bahwa semua perawinya tsiqah dan termasuk perawi-perawi Bukhari-Muslim. Kecuali Syaddad bin Sa’id, bahwa ia hanya dipakai oleh Imam Muslim. 

Rasulullah ﷺ sebagai Nabi kita dan junjungan seluruh kaum muslimin, adalah beliau tidak pernah bersentuhan dengan wanita, meskipun ketika membai’at kaum wanita. 

Sebagaimana dalam riwayat Imam Ahmad dari Urwah, bahwa Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah ﷺ membai’at para wanita dengan ayat berikut ini; ‘Hendaklah kalian tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun…’ [Al-Mumtahanah: 12] (Aisyah) berkata, ‘Dan tangan beliau sama sekali tidak menyentuh tangan mereka kecuali wanita yang ia miliki (budak)’.” [Isnah Shahih menurut Syu’aib Al-Arna’uth]

Ikhwan fiddien, dari sini kita faham, bahwa tidak menyentuh lawan jenis adalah merupakan Sunnah Rasulullah ﷺ. Sudah sepatutnya bagi mereka yang mengaku cinta kepada beliau dan Sunnahnya, maka seharusnya ia melaksanakan Sunnah ini. Tanpa perlu berfikir, apakah itu membatalkan wudhu ataukah tidak membatalkan wudhu.

Kedua, tujuan Social Distancing adalah agar tidak terjadi ikhtilath atau saling berbaur antara lelaki dan wanita bukan mahram yang berada di tempat keramaian.

Mungkin, dulu ada yang merasa kesulitan kalau harus atur jarak dengan lawan jenis ketika berada di tempat-tempat umum. Salah satu alasannya adalah akan kesulitan memberikan ruang yang cukup untuk bisa menampung banyak orang dengan system jaga jarak dengan lawan jenis.

Padahal, sejatinya tidak serumit itu selama semua orang tau bahwa Social Distancing itu adalah suatu kewajiban bagi kaum muslimin. Artinya, kalau sudah sama-sama ngerti, toh semua orang bisa menerapkan aturan jaga jarak dengan lawan jenis. Bahkan, meskipun itu di rumah sakit, di bandara atau di dalam pesawat sekalipun.

Pada saat darurat Corona, Social Distancing berlaku terhadap siapa saja, meski terhadap sesama lawan jenis. Akan tetapi, apakah aturan ini juga berlaku terhadap keluarga? Kakak atau adik?

Artinya, Social Distancing itu tidaklah rumit dan masih ada kelonggaran atau kebolehan pada hal-hal tertentu.

Nah, demikianlah aturan Syari’at Allah ﷻ, walaupun kebanyakan orang menganggapnya terlalu mengekang, pada hakikatnya kelonggaran atau kebolehan pada banyak hal masih ada. Dan yang lebih penting untuk diketahui adalah, sisi positif dan manfaat yang akan diperoleh akan jauh lebih besar. Baik itu untuk kesehatan hati, jiwa maupun badan.

Pada intinya, semua tempat dan semua orang, ternyata bisa ya menerapkan Syari’at Allah dalam hal jaga jarak. Pada urusan yang lainnya bagaimana? Tentu akan bisa juga, selama punya tekat.

Dan kita telah melihat sendiri dampak penerapan Social Distancing di lingkungan kita, sebagaimana yang kita lihat sekarang ini. Di banyak tempat, justeru terkesan lebih bersih, rapi, tertib dan nyaman. Tidak pengap dan tidak perlu berdesak-desakan satu sama lain. 

Meskipun, pada akhirnya selama Corona ini masih ada, boleh jadi rasa was-was masih tetap ada karena takut tertular.

Nah, seandainya, dari dulu kita mau Social Distancing sebagai bentuk keta’atan kepada Allah, tentu itu jauh lebih baik. Ketika ada situasi seperti ini, maka kita pun sudah terbiasa dan alangkah baiknya lagi, jika keta’atan kepada Allah dilakukan secara ikhlas tanpa harus menunggu “dipaksa” oleh keadaan. 

Social Distancing bagi Muslimah untuk menghindari ikhtilath dan menjaga kesucian jiwa 

Situasi darurat Corona telah banyak mengubah pola hidup banyak orang dan cobaan ini telah mendorong manusia untuk merubah sikap. Sebagaimana penerapan Social Distancing yang terus digalakkan pada masa pandemi ini, ada hikmah lain lagi yang juga patut untuk direnungkan.

Ketika manusia tidak lagi bisa berdesak-desakan atau saling bersenggolan antara lelaki dan wanita yang bukan mahram, maka ada hikmah lain dari semua ini. Yaitu berkurangnya kemungkinan terjadi ikhtilath di tempat-tempat umum. Ya, tentu saja, karena setiap orang sudah saling menyadari untuk tidak berkerumun pada suatu ruangan atau suatu tempat sebagai bentuk ketertiban untuk jaga jarak.

Orang-orang saat ini sangat menyadari pentingnya untuk tidak berkerumun, karena hal ini dapat mencegah penybaran wabah Corona.

Apakah anda sudah tau, bahwa Allah ﷻ telah menetapkan Syari’at-Nya dalam perkaran ini sebelum ada Corona atau aturan Social Distancing di zaman ini?

Allah ﷻ sudah memerintahkan manusia untuk tidak melakukan ikhtilath atau bercampur-baurnya antara lelaki dan wanita yang bukan mahram di rumah, di lingkungan publik atau di tempat-tempat ibadah kaum muslimin. 

Mengapa larangan ikhtilath (bercampur baur antara lelaki dan wanita yang bukan mahram) harus mendapatkan perhatian oleh kaum muslimin?

Karena, larangan ikhtilath mengandung banyak mashlahat (kebaikan) yang tidak pernah terfikirkan oleh manusia sebelumnya. Apalagi dalam situasi darurat Corona, menahan diri agar tidak berbuat ikhtilath adalah salah jalan atau cara agar tidak tertular penyakit.

Jika demikian halnya, sudah seharusnya kita menyadari, ketika kaum muslimin menahan diri dari perbuatan ikhtilath, maka bukan hanya akan selamat dari penyebaran virus, namun juga selamat dari bahaya bisikan syaithan yang terus berusaha untuk menjerumuskan manusia untuk berbuat maksiat.

Dengan adanya situasi darurat Corona, manusia seakan dipaksa untuk ta’at pada aturan Allah agar tidak berbuat ikhtilath 

Dahulu, jika ada segolongan orang (ikhwan atau akhwat) yang ingin menahan diri dari berbuat ikhtilath, maka prasangka-prasangka buruk pun akan diarahkan kepada mereka. Mungkin ada yang menuduh kalangan tersebut adalah orang-orang yang sombong, angkuh, sok suci atau tuduhan-tuduhan buruk lainnya.

Padahal, itu tidaklah benar. Dan sebenarnya, mereka sedang berusaha untuk menta’ati perintah Allah untuk tidak berbuat ikhtilath dengan yang bukan mahram, sehingga hati mereka terjaga dan lebih selamat. Sayangnya, hal ini belum diketahui oleh kebanyakan orang, terutama yang tidak mengenalnya secara baik.

Larangan untuk berbuat ikhtilath adalah aturan yang sudah dibuat oleh Allah sejak Rasulullah Muhammad diutus kepada umat manusia

Larangan ini bukanlah larangan yang diada-adakan oleh sebagian kalangan. Larangan ini merupakan Syari’at Allah untuk seluruh manusia.

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ وَلَا تُسَافِرْنَ امْرَأَةٌ إِلَّا وَمَعَهَا مَحْرَمٌ

“Janganlah seorang laki-laki berkhalwat (berduaan) dengan seorang wanita dan janganlah sekali-kali seorang wanita berpergian kecuali bersama dengan mahramnya.” (HR. Al-Bukhari dari Abdulullah bin Abbas Radhiyallahu ‘anhu)

Allah ﷻ berfirman:

“…Dan apabila kamu meminta sesuatu keperluan kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka…” [Al-Ahzab: 53]

Ikhwati fillah, ayat ini adalah ayat yang berkenaan tentang aturan dalam berbicara kepada lawan jenis yang diatur oleh Syari’at dan hukum dalam ayat ini bersifat global. Berkenaan dengan Social Distancing yang diatur dalam Islam, ayat ini adalah salah satu dalil yang mendasarinya.

Imam Al-Qurtubi rahimahullah menjelaskan tentang ayat ini bahwa, “Secara makna, semua wanita masuk dalam konteks (ayat ini). Dan berdasarkan kaidah Ushul Syar’i, bahwa seluruh apa yang ada pada seorang wanita, baik badan maupun suaranya adalah aurat. Semuanya tidak boleh diperlihatkan (di-zhahirkan, red), kecuali bila ada keperluan (yang Syar’i), seperti pada saat dia dilamar seseorang atau keperluan pengobatan terhadap penyakit yang ada di badannya.”

Pada dasarnya, berbaurnya antara lelaki dan wanita yang bukan Mahram itu boleh jadi didasari oleh berbagai alasan yang banyak. Namun demikian, seorang muslim harus tau, bahwa tidak semua alasan yang diutarakan manusia itu dapat diterima dan dibenarkan oleh Syari’at sehingga mereka dengan mudahnya bersenggolan antara lawan jenis yang bukan mahram atau saling bertatap muka.

Seandainya ada situasi yang mengharuskan mereka untuk berbicara dengan lawan jenis, maka ada hal-hal penting yang mengharuskan diperhatikan. Dan ketika mereka berbicara dengan lawan jenis, maka tidak boleh mengesampingkan adab dan akhlak yang sudah ditetapkan oleh Syari’at, yaitu harus berada di balik tabir atau dengan adanya mahram yang mendampinginya. (Baca: Dalil Syar’i wajibnya berada di balik tabir ketika berbicara dengan lawan jenis).

Ada Corona atau tidak, Social Distancing bagi muslim dan muslimah sudah menjadi kewajiban sejak Al-Qur’an diturunkan

Corona akan pergi, insya Allah, namun apakah seorang muslim dan muslimah juga akan meninggalkan kewajiban Social Distancing? Kami berharap hal itu tidak terjadi ya ikhwati…

Bukankah kita sudah diberi pelajaran oleh Allah dengan pelajaran yang sangat berarti dan akan terus kita ingat di tahun-tahun berikutnya? Oleh karena itu, apakah pembelajaran yang Allah berikan kepada kita di tahun ini akan kita lupakan begitu saja?

Dekade ini, seakan kita ditempa dengan sesuatu yang “baru” yang sebelumnya sempat ditolak mentah-mentah oleh banyak kalangan yang anti-pati terhadap Syari’at. Semoga, pelajaran ini terus kita ingat selama-lamanya. Jangan sampai, kita lupakan begitu saja, apalagi menyangka ini hanyalah fenomena alam yang akan datang dan pergi.

Jangan demikian.

Setiap segala sesuatu adalah berdasarkan kehendak Allah ﷻ dan di dalamnya terdapat pelajaran untuk menegur umat manusia. Sehingga, manusia itu mau berfikir, mau bertaubat dan kembali kepada-Nya.

Janganlah kita menganggap setiap kali ada musibah atau bencana, lantas mengira itu hanyalah fenomena alam biasa. Maka apakah kita juga akan mengatakan demikian ketika akan terjadi kiamat?

Allah ﷻ berfirman:

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah Kami kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” [Al-An’am: 44]

Pada hari ini, manusia bisa mamatuhi protokol kesehatan sebaik-baiknya disebabkan rasa tamak mereka untuk menjaga kesehatan. Jika demikian halnya, maka sudah sepatutnya seorang muslim jauh lebih sanggup untuk patuh kepada protokol Syari’at yang dibuat oleh Allah ﷻ.

Karena, Allah ﷻ adalah Maha Adil, Maha Bijaksana dan sama sekali tidak ingin menzhalimi hamba-hamba-Nya.

Setiap aturan Allah bukanlah untuk menyengsarakan hamba-hamba-Nya. Oleh karena itu, setiap muslim harus yakin dengan seyakin-yakinnya, bahwa Syari’at Allah itu adalah baik dan akan membawa kebaikan dimanapun ia ditegakkan.

Kebaikan yang akan diraih oleh seorang muslim adalah kebaikan yang tampak maupun tidak tampak. Kebaikan di dunia dan akhirat.

Ada Corona atau tidak, Social Distancing bagi seorang muslim dan muslimah sudah menjadi kewajiban sejak Al-Qur’an diturunkan. [Abdullah]